Jawa Pos Radar Pacitan – Kondisi sejumlah ruas jalan kabupaten di Pacitan yang masih minim penerangan memunculkan tanda tanya publik.
Pasalnya, anggaran yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk membayar listrik penerangan jalan umum (PJU) justru membengkak hingga puluhan miliar rupiah setiap tahun.
Kepala Dinas Perhubungan Pacitan Bambang Mahaendrawan mengakui tingginya beban tagihan listrik PJU tersebut.
Pada 2025 lalu, berdasarkan data Badan Keuangan Daerah (BKD), Pemkab Pacitan mengalokasikan anggaran Rp 10,2 miliar hanya untuk membayar setrum PJU.
“Biaya listrik PJU memang cukup besar. Karena itu, kami sedang mencari berbagai solusi agar anggaran bisa ditekan,” ujar Bambang, Selasa (13/1).
Sejumlah ruas jalan utama yang kerap dikeluhkan warga karena gelap gulita di antaranya jalur Pacitan–Ponorogo serta Jalur Lintas Selatan (JLS) Pacitan–Trenggalek.
Kondisi ini dinilai rawan, terutama pada malam hari dan saat cuaca buruk.
Berdasarkan data Dishub, saat ini terdapat 2.698 titik PJU yang tersebar di seluruh wilayah Pacitan.
Namun, tidak semuanya berfungsi optimal. Sebagian titik mengalami kerusakan akibat usia pakai, cuaca, maupun gangguan teknis lainnya.
“Pada akhir 2025 lalu, kami melakukan perbaikan berkala pada sedikitnya 118 titik PJU yang mengalami kerusakan,” jelas Bambang.
Sebagai langkah jangka menengah hingga panjang, Dishub Pacitan mendorong pemanfaatan PJU berbasis energi terbarukan, khususnya tenaga surya.
Usulan pembangunan PJU solar cell telah diajukan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun pemerintah pusat.
“PJU tenaga surya menjadi salah satu alternatif yang cukup efektif untuk menekan biaya listrik. Selain itu, perawatan PJU konvensional juga tetap kami lakukan agar yang sudah terpasang bisa berfungsi maksimal,” ungkapnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto