Jawa Pos Radar Madiun – Fenomena tanah ambles atau lubang runtuhan (sinkhole) yang mengerikan ternyata bukan hanya cerita di film.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara spesifik menyebut Pacitan sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang rawan mengalami bencana ini.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan fenomena alam tersebut.
Risiko sinkhole mengintai kawasan yang tersusun oleh lapisan batu gamping (limestone) atau karst, struktur tanah yang memang mendominasi wilayah Pacitan.
Mengapa tanah yang terlihat kokoh bisa tiba-tiba runtuh? Berikut penjelasan ilmiahnya.
Pembunuh Senyap Itu Bernama Sinkhole
Menurut Adrin, sinkhole adalah pembunuh berdarah dingin karena prosesnya tidak terlihat mata.
Semua bermula dari air hujan yang bersifat asam (menyerap CO2 dari udara). Saat air ini meresap ke dalam tanah Pacitan yang kaya kapur, ia perlahan melarutkan batuan tersebut.
"Seiring waktu, air permukaan yang mengalir melalui rekahan menyebabkan rongga di bawah tanah semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya," jelas Adrin.
Tanda-Tanda Terjadi Sinkhole
Kapan sinkhole biasanya terjadi? Warga harus ekstra waspada saat musim penghujan.
Ketika hujan lebat turun, lapisan tanah penutup rongga yang sudah menipis tidak lagi kuat menahan beban air dan tanah di atasnya. Akibatnya, tanah akan runtuh seketika.
"Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole," terang Adrin.
Tantangan terbesar bencana ini adalah sulitnya melihat tanda-tanda awal secara visual karena prosesnya terjadi di perut bumi.
Namun, Adrin menegaskan bencana ini bukan tidak bisa diprediksi. Teknologi survei geofisika modern bisa menjadi solusi mitigasi dini.
"Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah," ungkapnya.
Dengan metode ini, potensi sinkhole bisa diketahui lebih awal sebelum menelan korban. (naz)
Editor : Mizan Ahsani