PACITAN – Musim durian tiba. Aroma legit buah berduri itu berseliweran di sudut-sudut kota, menarik warga untuk mampir.
Sejumlah lapak durian dadakan bermunculan, menawarkan durian lokal dengan ragam ukuran dan rasa.
Salah satunya lapak milik Arindra Datta Adhy Prasetya, 32, warga Dusun Kebonredi, Desa Tanjungsari.
Sejak Desember lalu, Arindra menggelar lapak di Jalan dr Soetomo, tepat di dekat pintu masuk Tempat Pemakaman Umum Giri Sampurno.
“Jual durian lokal,” ujar Arindra, Senin (26/1).
Setiap pagi, Arindra bersama adiknya menata durian satu per satu di meja dagangan.
Buah dikelompokkan berdasarkan ukuran, dari kecil hingga jumbo.
Pasokannya berasal dari kebun warga di Kecamatan Arjosari dan Tulakan.
“Durian dari Arjosari dan Tulakan,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan pasokan, Arindra rutin berkeliling desa membeli durian yang mulai matang di kebun-kebun warga.
Buah kemudian dibawa ke kota dan dijual langsung ke konsumen.
Saat ini, panen raya belum tiba sehingga ketersediaan masih terbatas.
“Belum panen raya, masih langka, jadi harga agak mahal,” katanya.
Arindra mengaku sudah berjualan durian setiap musim sejak 2011.
Pembeli yang ingin makan di tempat maupun membawa pulang dilayani.
Harga bervariasi, mulai Rp 25 ribu hingga Rp 200 ribu per buah, tergantung ukuran dan kualitas.
Di balik aroma legit yang menggoda, perputaran uang pun mengalir deras.
“Omzet sehari bisa Rp 5–7 juta,” pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto