Jawa Pos Radar Madiun – Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Pacitan pada Selasa (27/1) pagi menyisakan fakta mengejutkan.
Gempa berkekuatan magnitudo 5,7 yang terjadi sekitar pukul 08.20 WIB tersebut dipastikan bukan gempa samudera, melainkan gempa darat jenis intraslab, berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, menjelaskan bahwa pada rilis awal BMKG, gempa tersebut diinformasikan sebagai gempa tektonik dengan episentrum di wilayah tenggara Pacitan atau kawasan laut.
Namun, setelah dilakukan pemutakhiran data, BMKG merevisi informasi tersebut.
“Dalam perkembangan terbaru, BMKG memastikan gempa ini merupakan gempa darat,” ujar Erwin saat menyampaikan keterangan pers di Media Center BPBD Pacitan, Selasa (27/1).
Berdasarkan hasil pemetaan terbaru, episentrum gempa berada di Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, dengan kedalaman gempa berkisar 105 hingga 122 kilometer di bawah permukaan bumi.
Kedalaman tersebut mengindikasikan gempa tergolong gempa dalam.
Erwin menambahkan, wilayah Pacitan memang memiliki potensi gempa darat karena dilintasi Sesar Grindulu.
Berdasarkan pemetaan BMKG, sesar tersebut membentang dari wilayah Nogosari Kecamatan Ngadirojo, Wonosidi, Desa Kluwih, Tulakan, Bungur, Jatigunung hingga ke arah barat wilayah Donorojo.
“Pada awalnya kami sempat mengkhawatirkan gempa ini berkaitan dengan aktivitas Sesar Grindulu. Namun setelah koordinasi dengan BMKG Nganjuk, dipastikan gempa ini tidak dipicu oleh sesar, melainkan merupakan gempa intraslab,” jelasnya.
Erwin menerangkan, gempa intraslab adalah gempa bumi yang terjadi di dalam lempeng tektonik yang sedang menunjam ke bawah lempeng lain, bukan di batas antarlempeng.
Gempa jenis ini umumnya terjadi pada kedalaman cukup besar dan relatif jarang terjadi, sehingga kerap menimbulkan pembaruan data di awal kejadian.
“Gempa intraslab bisa dipicu oleh perubahan tekanan dan suhu di dalam lempeng, pergerakan fluida, hingga pecahan slab lempeng yang menghunjam ke mantel bumi,” terangnya.
Beberapa peristiwa gempa intraslab besar yang pernah tercatat di dunia antara lain Gempa Ancash di Peru tahun 1970, serta gempa di Jawa Barat dan Sumatra Barat pada 2009.
Meski berpusat di kedalaman, gempa jenis ini dapat dirasakan luas karena rambatan gelombangnya menjalar jauh. Dalam kasus Pacitan, dampak gempa dilaporkan relatif kecil di wilayah episentrum.
Namun getaran dirasakan hingga daerah sekitar seperti Trenggalek, Ponorogo, Madiun, dan sekitarnya.
Hingga laporan ini disusun, BPBD Pacitan memastikan tidak ada laporan kerusakan signifikan di wilayah Pacitan.
Meski demikian, BPBD Pacitan tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa panik.
Erwin menegaskan bahwa Pacitan merupakan wilayah rawan gempa, baik gempa darat maupun gempa samudera.
“Kami mengajak masyarakat terus meningkatkan literasi kebencanaan, memperkuat konstruksi bangunan, mengamankan perabot rumah tangga, serta memastikan jalur evakuasi tetap aman dan dikenali,” pungkasnya. (hyo/naz)
Editor : Mizan Ahsani