Jawa Pos Radar Pacitan – Gaung batu akik yang sempat menjadi primadona pada 2013–2015 belakangan meredup.
Namun, para pecintanya berupaya membangkitkan kembali pamor batu permata itu.
Salah satunya lewat pameran di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Pacitan, 4–6 Februari lalu.
M Alwi, pegiat batu akik Pacitan, mengatakan tren batu akik memang pasang surut.
Meski begitu, akik tetap menjadi bagian budaya lokal yang sudah melekat sejak lama.
“Yang booming pasti ada pasang surut. Tapi karena sudah jadi budaya lokal, sampai sekarang masih eksis,” katanya.
Alwi mengakui harga batu akik kini tidak segila dulu, terutama yang kualitas standar.
Namun, batu-batu yang masuk kategori kontes masih memiliki nilai jual tinggi.
“Yang kualitas kontes masih sangat mahal seperti Red Baron, Golden Supreme, termasuk juga batu-batu gambar khas Pacitan,” ungkapnya.
Di Pacitan, komunitas batu akik disebut masih ada.
Salah satunya Pacitan Gemstone. Pusat jual beli berada di Pasar Tangkluk, Desa Sukodono, Donorojo, yang ramai saat pasaran Kliwon.
Para pengrajin juga masih banyak ditemui, terutama di wilayah Donorojo.
Bahkan, di wilayah kota juga masih ada pengrajin akik.
“Di wilayah kota juga masih ada pengrajin akik,” ujarnya.
Terakhir kali kontes batu akik berskala nasional di Pacitan digelar sekitar dua tahun lalu.
Alwi berharap pameran ini menjadi pemicu kebangkitan batu akik Pacitan.
“Mudah-mudahan pemerintah memberikan ruang yang lebih besar kepada pegiat akik Pacitan,” pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto