Jawa Pos Radar Pacitan – Ziarah makam menjadi tradisi rutin di banyak tempat menjelang Ramadan.
Sebagian masyarakat juga mengulangnya sebelum Idul Fitri tiba.
Di Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, tradisi itu dilakukan bersama-sama oleh sejumlah warga, kemarin (16/2).
Ziarah bersama digelar di TPU Kacangan, Dusun Pojok, desa setempat.
Warga tampak mengamati satu per satu batu nisan untuk mengenali identitas keluarga yang dimakamkan.
Setelah menemukan lokasi makam, warga membersihkannya dari daun kering dan rumput liar.
Sebagian juga menabur bunga di atas nisan.
“Tugas kita di dunia adalah meneruskan kebaikan almarhum almarhumah, kemudian mendoakan semoga mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Noto, warga setempat.
Selama hampir 20 menit suasana khidmat terasa di pemakaman yang terletak tak jauh dari permukiman.
Para peziarah tertunduk menyimak dan mengamini doa yang dipanjatkan tokoh agama setempat.
Setelah doa selesai, warga tidak langsung pulang.
Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk saling berjabat tangan dan bersilaturahmi.
Obrolan hangat terdengar di antara mereka. Mulai kehidupan sehari-hari hingga persiapan menyambut Ramadan.
Tradisi ziarah massal menjadi sarana menguatkan tautan kekerabatan antarwarga.
Pj Kepala Desa Wonoanti Yudi Sutarta mengatakan, tradisi ziarah makam sudah dilakukan turun-temurun.
Semangat yang ingin ditumbuhkan adalah kebersamaan dan kekompakan warga.
“Kalau bicara tradisi ziarah makam sebenarnya sudah ada secara turun temurun. Tentu saja semangat yang ingin ditumbuhkan adalah kebersamaan, gotong royong, serta kekompakan sebagai sesama warga desa,” katanya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto