Jawa Pos Radar Madiun - Pemberdayaan ekonomi perempuan prasejahtera menjadi kunci penggerak ekonomi akar rumput.
Di Kabupaten Pacitan, kisah Nurani Wulandari menjadi bukti nyata bagaimana akses permodalan yang disertai pendampingan rutin mampu mengubah dapur sederhana menjadi pusat produktivitas bagi lingkungan sekitar.
Perjalanan Nurani, dari Kue Titipan hingga Skala Catering
Nurani Wulandari, seorang nasabah PNM Mekaar asal Bandar, Pacitan, memulai perjalanannya pada tahun 2019.
Dengan dukungan pembiayaan dari PNM Mekaar, ia merintis usaha pembuatan kue di dapur rumahnya.
Awalnya, Nurani hanya memproduksi kue dalam jumlah terbatas untuk dititipkan di warung-warung tetangga.
Baca Juga: Telur MBG Berkotoran Viral, Wabup Magetan Perintahkan Audit Quality Control SPPG
Ketekunan dan pendampingan dari PNM Mekaar dalam hal pengelolaan keuangan dan edukasi usaha perlahan membuahkan hasil.
Kini, skala usahanya telah berkembang pesat.
Nurani mulai melayani pesanan catering dalam skala besar, terutama saat memasuki bulan Ramadan yang menjadi puncak permintaan masyarakat.
“Dulu hanya membuat sedikit kue untuk titipan warung, sekarang alhamdulillah sudah menerima pesanan besar bahkan bisa mengajak ibu-ibu di sekitar untuk ikut bekerja bersama. Ini membuat kami lebih produktif dan berpenghasilan lebih baik,” ungkap Nurani, Rabu (25/2).
Menggerakkan Ekonomi Komunitas
Kesuksesan Nurani tidak ia nikmati sendiri.
Baca Juga: Seleksi CPNS 2026 Menguat, 160 Ribu ASN Pensiun Jadi Momentum Rekrutmen
Seiring dengan tumbuhnya bisnis catering miliknya, ia membuka ruang kerja bagi ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya.
Langkah ini menjadikan usahanya sebagai penggerak ekonomi komunitas di wilayah Bandar, Pacitan.
Para ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan kini dapat berkontribusi secara finansial bagi keluarga mereka.
Pendekatan pemberdayaan ini mendapat apresiasi dari pihak PNM.
Pemimpin Cabang PNM Wonogiri, Setia Budi, menegaskan bahwa pola pendampingan PNM Mekaar memang dirancang untuk menciptakan kebermanfaatan yang lebih luas dari sekadar pemberian modal.
“Pemberdayaan perempuan prasejahtera bukan hanya soal modal, tetapi membangun kapasitas usaha yang kuat agar manfaatnya dirasakan hingga ke lingkungan sekitar,” ujar Setia Budi.
Baca Juga: Harapan PPPK Paruh Waktu Diangkat Penuh Waktu Menguat, KemenPAN-RB Siapkan Tahapan Bertahap
Strategi Pendampingan Berkelanjutan
PNM Mekaar meyakini bahwa akses permodalan harus berjalan beriringan dengan edukasi. Nasabah tidak hanya diberi dana, tetapi juga dilatih untuk:
-
Beradaptasi dengan Dinamika Usaha: Memahami tren pasar dan kebutuhan konsumen.
-
Pengelolaan Keuangan: Memisahkan uang usaha dan uang pribadi agar bisnis berkelanjutan.
-
Peningkatan Kapasitas: Teknik produksi yang lebih efisien dan standar kualitas yang lebih baik.
Kisah Nurani di Pacitan menjadi inspirasi bahwa usaha mikro yang dikelola dengan pendampingan yang tepat dapat tumbuh secara berkelanjutan dan membawa perubahan sosial yang signifikan bagi komunitasnya. (*)
Editor : Mizan AhsaniSumber : Radar Madiun