Jawa Pos Radar Pacitan – Penyakit leptospirosis di Pacitan kembali merebak.
Dalam empat bulan pertama 2026, Dinas Kesehatan mencatat 47 kasus.
Kepala Dinkes Pacitan Daru Mustikoaji mengatakan, penyakit yang dikenal sebagai kencing tikus itu masih bersifat endemis dan muncul setiap tahun, terutama saat musim panen.
“Masih ada, apalagi saat musim panen seperti sekarang,” ujarnya, kemarin (24/4).
Menurut dia, persebaran kasus kini tidak hanya terjadi di wilayah pedesaan.
Kawasan perkotaan juga mulai ditemukan kasus, meski daerah perbukitan dan lahan pertanian tetap menjadi wilayah paling rentan.
“Wilayah seperti Nawangan masih dominan, tapi kota Pacitan juga sudah ada kasus,” ungkapnya.
Penularan mayoritas terjadi di area persawahan dan ladang. Aktivitas petani meningkatkan risiko kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi.
Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira yang masuk melalui luka terbuka atau selaput lendir.
Penularan terjadi melalui air atau tanah yang tercemar urin hewan, seperti tikus.
Dinkes bersama pemkab telah melakukan berbagai upaya pencegahan.
Mulai koordinasi lintas sektor, peningkatan surveilans, hingga pemberantasan tikus.
“Kesadaran masyarakat sangat penting,” pungkas Daru. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto