Jawa Pos Radar Pacitan – Kesabaran warga di perbatasan Desa Wonoanti, Nglaran, dan Jetak, Kecamatan Tulakan, sepertinya sudah mencapai titik nadir.
Mereka kini resmi "mengibarkan bendera putih" terhadap kondisi jalan kabupaten yang membelah wilayah mereka.
Jalur utama penghubung antar-desa tersebut kini kondisinya babak belur dan nyaris tak layak lintasi.
Pantauan di lokasi, aspal di ruas jalan tersebut hampir tak bersisa.
Di banyak titik, aspal mengelupas dan menyisakan batu kerikil yang berserakan di badan jalan.
Baca Juga: Warga Madiun Sabar Dulu, Perbaikan Jalan Terganjal Harga BBM Nonsubsidi
Lubang-lubang besar menganga layaknya ranjau bagi pengendara yang melintas.
Kerusakan paling parah terpantau sepanjang satu kilometer.
Wisnu, salah seorang pengguna jalan, menyebut kondisi ini adalah yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir.
Pengendara motor harus berjibaku menjaga keseimbangan, sementara pengemudi mobil wajib ekstra waspada agar kolong kendaraan tak tersangkut.
"Ini sudah bukan jalan rusak lagi, tapi lebih mirip sungai kering. Benar-benar yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir," keluh Wisnu kemarin (5/5).
Selama ini, warga sekitar dan komunitas angkutan lokal sebenarnya tidak tinggal diam.
Baca Juga: Jalan Rusak di Ponorogo Capai Ratusan Km, DPRD Desak Perbaikan Segera
Mereka kerap iuran dan bergotong royong melakukan tambal sulam secara swadaya agar jalan tetap bisa dilalui. Namun, kini mereka angkat tangan.
Mawan, penduduk setempat, menegaskan bahwa kerusakan sudah melampaui batas kemampuan tenaga dan kantong warga.
"Dulu kami masih sanggup urunan semen atau pedel. Sekarang kerusakannya sudah berat, tidak akan mempan kalau hanya swadaya. Kami menyerah, bendera putih," ungkapnya getir.
Warga kini hanya bisa menggantungkan harapan pada gerak cepat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan.
Pasalnya, ruas jalan ini adalah urat nadi ekonomi warga sekaligus jalur utama bagi para pelajar menuju sekolah.
Jika dibiarkan berlarut-larut, warga khawatir kerusakan akan kian melebar dan memicu kecelakaan fatal.
”Kami mohon segera diperbaiki. Jangan menunggu ada korban jiwa baru ditinjau,” pungkas Mawan. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto