Jawa Pos Radar Pacitan – Tradisi adu kelapa kembali mewarnai bersih desa di Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo, Pacitan, Senin (4/5) lalu.
Tradisi unik yang diyakini sudah ada sejak era Perang Diponegoro itu menjadi momen paling dinanti warga.
Sorak-sorai masyarakat pecah saat dua warga maju membawa kelapa dan saling mengadu buah tersebut hingga pecah.
Dalam tradisi itu, kelapa yang tetap utuh dianggap simbol ketangguhan dan kekuatan.
“Ini bukan sekadar hiburan, tapi simbol kekuatan, persaudaraan, dan kebanggaan warga,” ujar Kepala Desa Cemeng, Sarto.
Tradisi tersebut digelar dalam rangka bersih desa yang rutin dilaksanakan setiap bulan Longkang atau Selo dalam penanggalan Jawa.
Di balik kemeriahannya, adu kelapa menyimpan kisah sejarah panjang yang dipercaya berkaitan dengan masa perjuangan Perang Diponegoro.
Konon, saat itu Bupati Pacitan bernama Tumenggung Kanjeng Jimat atau Joyoniman mendapat perintah dari Kerajaan Mataram untuk datang ke wilayah Dukuh Singkil guna menghadapi Belanda.
Kanjeng Jimat bersama Ki Retrogati dan warga setempat berjaga di wilayah perbatasan dengan dipimpin Bekel Trenggono.
Saat tiba di kawasan yang kala itu bernama Banaran, warga menyambut rombongan dengan suguhan kelapa.
Namun, tidak tersedia alat untuk membelah buah tersebut.
Kanjeng Jimat dan Ki Retrogati kemudian memilih cara tak biasa, yakni mengadu kelapa hingga pecah.
Dari benturan itu dipercaya muncul asap putih dan hitam. Asap hitam yang mengarah ke timur diyakini menjadi asal mula nama Cemeng yang berarti hitam.
Kini, tradisi tersebut terus dipertahankan sebagai bagian identitas budaya masyarakat Donorojo.
“Adu kelapa ini khas Donorojo. Selain melestarikan budaya, juga bisa menggerakkan ekonomi warga,” imbuh Sarto. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto