Jawa Pos Radar Pacitan – Ancaman leptospirosis di Pacitan diminta terus diwaspadai.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mengungkap sebagian besar tikus yang pernah diteliti terbukti membawa bakteri leptospira penyebab penyakit tersebut.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Nur Farida, mengatakan temuan tersebut sudah terdeteksi sejak lama.
“Berdasar data 2015, waktu gropyok tikus, sekitar 70 persen tikus yang diteliti mengandung bakteri leptospira,” katanya Minggu (10/5).
Menurut Farida, tingginya potensi penularan leptospirosis sejalan dengan meningkatnya jumlah kasus yang tercatat sepanjang 2026.
“Periode Januari sampai Mei tahun ini, terdapat 139 penderita leptospirosis,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, tikus pembawa bakteri leptospira tidak dapat dibedakan secara fisik dengan tikus biasa.
Karena itu, upaya pencegahan dan kewaspadaan masyarakat menjadi langkah utama.
Kelompok paling berisiko yakni petani dan warga yang sering kontak dengan air maupun tanah yang berpotensi terkontaminasi urine tikus. Termasuk pekerja yang beraktivitas di selokan atau area berlumpur.
“Diharapkan memakai APD (alat pelindung diri),” ujar Farida.
Leptospirosis memiliki sejumlah gejala awal seperti demam mendadak, nyeri otot terutama di bagian betis, serta sakit kepala setelah beraktivitas di lingkungan berisiko.
Masyarakat yang mengalami gejala tersebut diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Pasien harus cerita detail, misal gejala dirasakan setelah membersihkan selokan, pergi ke sawah, atau sebagainya, untuk penanganan lebih dini,” jelasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto