Jawa Pos Radar Pacitan – Kehadiran SRMA 23 Pacitan mulai menjadi perhatian dunia pendidikan di Pacitan.
Konsep boarding school dengan fasilitas makan dan tempat tinggal gratis selama 24 jam membuat sekolah tersebut diminati masyarakat sekaligus menjadi rujukan sekolah formal.
Kamis (7/5) lalu, puluhan pengawas SD dan SMP, unsur PGRI, MKKS, koordinator wilayah kecamatan bidang pendidikan hingga para camat dari 12 kecamatan melakukan studi tiru ke SRMA 23 Pacitan.
Mereka mempelajari pola pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan, Khemal Pandu Pratikna, mengatakan pendidikan karakter di SRMA 23 dinilai berjalan cukup baik dan layak menjadi referensi sekolah formal negeri.
“Kami mencermati pendidikan karakter yang dilakukan di SRMA 23 itu berjalan dengan baik,” katanya, Minggu (10/5).
Menurut Khemal, sejumlah pola pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut berpotensi diadaptasi dengan penyesuaian kondisi masing-masing sekolah.
“Ada beberapa poin yang nanti akan kami implementasikan dan copy,” ujarnya.
Dalam kunjungan itu, rombongan diajak melihat langsung kondisi asrama putra dan putri, sistem kedisiplinan siswa, hingga pola pembiasaan harian yang diterapkan di lingkungan sekolah.
Peserta juga makan bersama siswa dalam satu meja untuk mengamati aktivitas keseharian di asrama.
Khemal menilai keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dukungan orang tua siswa.
“Keberhasilan pendidikan karakter tidak lepas dari kesamaan persepsi antara orang tua dengan pihak sekolah,” ujarnya.
Dia mengakui tantangan terbesar di sekolah umum saat ini adalah membangun komunikasi intensif antara sekolah dan wali murid.
Selama ini, hubungan sekolah dan orang tua dinilai masih minim, baik dari sisi intensitas maupun kualitas komunikasi.
“Saya meyakini itu akan bisa meskipun butuh waktu,” pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto