Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Pendaftaran Sekolah Rakyat Pacitan Mulai Dibuka, Prioritaskan Desil I dan II

Nur Cahyono • Senin, 11 Mei 2026 | 09:55 WIB
Pembangunan gedung Sekolah Rakyat di Pacitan masih berlangsung, sementara proses penjaringan calon siswa dari keluarga desil I dan II mulai dilakukan. ASEP SYAEFUL/JAWA POS RADAR NGAWI
Pembangunan gedung Sekolah Rakyat di Pacitan masih berlangsung, sementara proses penjaringan calon siswa dari keluarga desil I dan II mulai dilakukan. ASEP SYAEFUL/JAWA POS RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Pacitan – Proses penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat Pacitan mulai berjalan meski pembangunan gedung permanen sekolah belum rampung.

Pemerintah daerah kini mulai menginventarisasi calon peserta didik dari keluarga kurang mampu untuk tahun ajaran mendatang.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Pacitan, Agung Mukti Wibowo, mengatakan proses penjangkauan calon siswa berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026.

“Proses penjangkauan calon siswa dilakukan sejak Maret hingga Juni,” ujarnya, kemarin (10/5).

Menurut dia, penjaringan dilakukan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dengan fokus utama pada anak dari keluarga kategori desil I dan desil II.

“Itu syarat utamanya, desil I dan II,” ungkap Agung.

Meski proses pendataan sudah berjalan, pendaftaran resmi masih menunggu data dari Kementerian Sosial Republik Indonesia terkait calon siswa dari dua kategori tersebut.

Data itu nantinya akan dicocokkan dengan data milik dinas pendidikan dan kementerian agama sebelum dilakukan verifikasi lanjutan.

Selain memastikan kondisi ekonomi keluarga, pendamping PKH juga akan mengecek kesiapan anak menjalani pendidikan sistem asrama.

“Nanti ada surat pernyataan dari orang tua dan siswa, pengalaman sebelumnya ada anak yang tidak betah,” katanya.

Sekolah Rakyat di Pacitan direncanakan membuka tiga rombongan belajar (rombel) untuk masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA. Setiap rombel akan diisi sekitar 25 hingga 30 siswa.

Seluruh peserta didik nantinya wajib menjalani pendidikan berbasis asrama atau boarding school.

Agung mengakui tantangan terbesar kemungkinan berada pada jenjang SD karena siswa usia dini harus tinggal di asrama jauh dari keluarga.

“Prediksi bersama, tingkat SD kemungkinan menjadi tantangan tersendiri karena harus berasrama,” ucapnya.

Meski begitu, minat masyarakat terhadap program Sekolah Rakyat disebut cukup tinggi, terutama pada jenjang SMA. Program tersebut dinilai menjadi solusi pendidikan bagi keluarga kurang mampu.

“Siswa dan warga kurang mampu terwadahi, ini solusi ketika ada persoalan biaya,” pungkasnya. (hyo/den)

Editor : Hengky Ristanto
#desil I dan II #pacitan #Sekolah Rakyat #sekolah berasrama #kemensos