Jawa Pos Radar Pacitan – Kabupaten ini menjadi salah satu wilayah dengan ancaman bencana paling kompleks di Jawa Timur.
Kondisi geografis berupa pegunungan, perbukitan, hingga pesisir membuat hampir seluruh jenis bencana berpotensi terjadi di Pacitan.
Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 339 kejadian bencana terjadi di wilayah tersebut.
Paling dominan berupa tanah longsor dengan 224 kejadian.
Kemudian pohon tumbang 31 kejadian, erosi 24 kejadian, kebakaran 16 kejadian, tanah ambles 10 kejadian, banjir luapan delapan kejadian, serta bencana lain akibat cuaca ekstrem.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan Yagus Triarso mengatakan, posisi Pacitan yang berada di kawasan jalur megathrust selatan Jawa juga meningkatkan ancaman gempa bumi dan tsunami.
“Cuma ancaman gunung berapi yang tidak ada,” katanya, kemarin (17/5).
BPBD mencatat sedikitnya terdapat sembilan ancaman bencana utama di Pacitan.
Meliputi banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang tinggi dan abrasi, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, tanah longsor, serta tsunami.
Menurut Yagus, masyarakat perlu memahami potensi bencana di lingkungan sekitar agar mampu meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Banjir umumnya terjadi akibat hujan deras berkepanjangan yang menyebabkan luapan air hingga menggenangi permukiman dan fasilitas umum.
Sementara banjir bandang banyak terjadi di kawasan hulu dan lereng curam dengan aliran deras bercampur lumpur serta material.
Cuaca ekstrem juga menjadi ancaman serius berupa hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hingga gelombang tinggi.
Di wilayah pesisir, ancaman abrasi dan gelombang tinggi dinilai dapat merusak garis pantai sekaligus membahayakan aktivitas pelayaran.
Dia meminta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiapkan tas siaga bencana, memantau informasi resmi, hingga mengenali jalur evakuasi dan titik aman.
“Selalu utamakan keselamatan,” pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto