Jawa Pos Radar Pacitan – Penutupan seluruh aktivitas tambang pasir di aliran Sungai Grindulu mulai memunculkan dampak sosial-ekonomi.
Puluhan warga penambang di Desa Arjowinangun mengaku kehilangan mata pencaharian setelah aktivitas tambang dihentikan aparat kepolisian sejak hampir sepekan terakhir.
Penutupan dilakukan menyusul persoalan dampak lingkungan dan kerusakan jalan akibat aktivitas tambang pasir di Desa Purworejo.
Salah seorang penambang pasir, Meseri mengatakan sistem tambang di wilayahnya berbeda dengan lokasi yang dipersoalkan.
Menurut dia, pasir hasil sedotan tidak langsung dijual, melainkan ditimbun lebih dulu hingga mengering agar tidak menimbulkan ceceran air di jalan.
“Di sini sistemnya timbun. Kadang sampai tiga hari baru laku,” ujarnya, kemarin (24/5).
Meseri mengaku penghentian aktivitas tambang membuat penghasilan warga terputus total.
“Kalau tidak nambang pasir mau makan apa?” katanya.
Keluhan serupa disampaikan penambang lainnya, Janap Suprapto.
Dia menyebut sedikitnya 25 kepala keluarga di Desa Arjowinangun dan Sirnoboyo selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas tambang pasir.
“Kurang lebih sudah 20 tahun kami hidup dari sini. Sekarang ditutup semua, termasuk yang manual juga berhenti,” ujarnya.
Menurut Janap, warga merasa ikut terkena dampak persoalan tambang di lokasi lain meski sistem penambangan di wilayah mereka berbeda.
“Kami merasa kena imbas persoalan dari tempat lain,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, warga mengaku sempat menerima bantuan beras lima kilogram dari pihak kepolisian.
Namun bantuan itu dinilai belum mampu menjawab persoalan utama, yakni hilangnya sumber penghasilan warga.
“Yang hilang itu mata pencaharian kami,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah dan aparat dapat mencari jalan tengah antara penegakan aturan lingkungan dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil yang selama ini hidup dari tambang pasir Sungai Grindulu.
“Semoga ada solusi terbaik,” tandasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto