Jawa Pos Radar Pacitan – Ancaman gempa bumi dan tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa Timur kembali menjadi perhatian serius.
Pacitan yang berada tepat di hadapan zona megathrust Samudra Hindia terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan dan simulasi penanggulangan bencana.
Langkah tersebut dilakukan seiring tingginya aktivitas kegempaan yang tercatat sepanjang tahun ini.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan mencatat sebanyak 1.284 kejadian gempa bumi terjadi selama 2025.
Kondisi itu menjadi pengingat bahwa wilayah Pacitan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap ancaman gempa tektonik maupun tsunami.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, pelatihan dan simulasi penanggulangan bencana pesisir digelar di kawasan Pantai Pancer Door mulai kemarin (3/6) hingga hari ini (4/6).
Wakil Komandan Pusat Teritorial Angkatan Laut (Pusteral) Kolonel Laut (P) Rully Riono mengatakan Pacitan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki tingkat risiko yang tinggi dibanding sejumlah daerah lain di pesisir selatan.
“Ini adalah realitas alam yang harus kita hadapi dengan bijak, bukan dengan ketakutan,” ujarnya.
Menurut Rully, secara geografis Pacitan memiliki garis pantai yang panjang dan berhadapan langsung dengan zona megathrust Samudra Hindia yang sewaktu-waktu berpotensi memicu gempa besar disertai tsunami.
Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat dan koordinasi antarinstansi menjadi aspek penting dalam mengurangi risiko korban apabila bencana benar-benar terjadi.
Materi yang diberikan dalam pelatihan meliputi pengenalan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS), prosedur evakuasi mandiri menuju titik aman, hingga pengelolaan kebutuhan darurat saat masa tanggap bencana.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai kesiapan logistik seperti pengoperasian dapur umum, pelayanan kesehatan darurat, serta pengelolaan lokasi pengungsian terpadu.
“Kami ingin memastikan koordinasi antarinstansi dapat berjalan cepat, tepat, dan tanpa hambatan ketika situasi darurat benar-benar terjadi,” katanya.
Rully menegaskan masyarakat memiliki peran paling penting dalam pengurangan risiko bencana.
Sebab, warga merupakan pihak pertama yang akan merasakan dampak ketika gempa maupun tsunami terjadi.
Karena itu, masyarakat diminta memahami tanda-tanda alam, mengenali jalur evakuasi terdekat, serta mematuhi arahan petugas ketika situasi darurat terjadi.
“Masyarakat perlu memahami tanda-tanda alam, mematuhi arahan petugas, serta memastikan jalur evakuasi di lingkungan masing-masing selalu terbuka dan mudah diakses,” tegasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto