Jawa Pos Radar Pacitan - Gelombang kenaikan harga kedelai kembali menghantam pelaku usaha tahu di Pacitan.
Di tengah harga bahan baku yang terus merangkak naik, perajin memilih menahan harga jual demi menjaga pelanggan. Akibatnya, margin keuntungan kian menipis.
Kondisi itu dirasakan Musiran, perajin tahu di Dusun Krajan, Desa Jatigunung, Kecamatan Tulakan.
Bahkan, dia mengibaratkan usaha yang dijalaninya saat ini hanya sekadar bertahan hidup.
“Sekarang, ibaratnya, cuma kerja bakti,” katanya, Selasa (9/6).
Menurut Musiran, kenaikan harga kedelai mulai terasa dalam tiga bulan terakhir.
Kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksinya kini dibanderol Rp 512 ribu per karung ukuran hampir 50 kilogram di tingkat grosir.
Padahal sebelumnya, harga kedelai masih berada di kisaran Rp 480 ribu per karung.
Sementara untuk pembelian eceran, harga kedelai saat ini mencapai Rp 12.500 per kilogram.
“Harga kedelai bukan naik lagi, tapi ganti harga,” ungkapnya.
Lonjakan harga bahan baku tersebut langsung memukul kapasitas produksi.
Jika sebelumnya mampu mengolah hingga dua kuintal kedelai dalam sekali produksi, kini jumlahnya terpaksa dipangkas menjadi sekitar satu kuintal.
Meski biaya produksi meningkat, Musiran belum berani menaikkan harga tahu yang dijual kepada konsumen.
Dia khawatir kenaikan harga justru membuat daya beli masyarakat menurun.
“Walaupun bahan baku naik, harga tahu tetap, tidak kami naikkan, sama seperti sebelumnya,” ujarnya.
Di tengah tekanan biaya produksi, secercah harapan datang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di sejumlah daerah.
Musiran mengaku telah diminta menjadi pemasok tahu untuk kebutuhan dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitar tempat usahanya.
Peluang tersebut diharapkan mampu membantu meningkatkan permintaan sekaligus menggerakkan kembali usaha tahu yang belakangan tertekan akibat mahalnya bahan baku.
“Semoga dengan adanya program ini usaha tahu bisa kembali berkembang dan produksi meningkat,” harapnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto