Jawa Pos Radar Pacitan – Penyebab kematian delapan ternak di Dusun Janglot, Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, akhirnya terungkap.
Hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Besar Veteriner Wates memastikan lima ekor sapi dan tiga ekor kambing yang mati terinfeksi antraks.
Temuan tersebut diperoleh setelah sampel ternak diuji menyusul laporan kematian hewan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pemerintah daerah langsung meningkatkan kewaspadaan mengingat antraks termasuk penyakit menular yang berbahaya bagi hewan maupun manusia.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Pacitan Indrawati mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium mengarah pada infeksi antraks.
Menindaklanjuti hasil tersebut, pihaknya bersama tim veteriner dan pemerintah desa langsung melakukan penanganan di lokasi.
"Hasil uji laboratorium menunjukkan indikasi antraks," ujarnya, kemarin (16/6).
Menurut Indrawati, mulai kemarin hingga beberapa hari ke depan petugas melakukan desinfeksi kandang dan lingkungan sekitar, pemberian vitamin, serta pengobatan terhadap ternak yang masih hidup.
Selain itu, vaksinasi segera dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk memutus potensi penyebaran penyakit ke ternak lain.
"Sementara ini fokus penanganan dipusatkan di Dusun Janglot. Selanjutnya kegiatan yang sama akan kami lakukan di dusun-dusun lain di Desa Pelem," ungkapnya.
Kasus tersebut menjadi perhatian serius karena Pacitan termasuk daerah dengan tingkat kewaspadaan tinggi terhadap antraks.
Wilayah ini berada dalam kawasan yang berbatasan dengan daerah rawan penyebaran antraks di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Kabupaten Wonogiri.
Selama ini, wilayah yang dikategorikan sebagai daerah endemis utama antraks di Pacitan meliputi Kecamatan Donorojo, Pringkuku, dan Punung.
Ketiganya merupakan kawasan dengan aktivitas perdagangan dan lalu lintas ternak yang cukup tinggi.
Antraks sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis.
Penyakit tersebut umumnya menyerang hewan pemakan rumput seperti sapi, kambing, dan domba.
Selain mengancam kesehatan ternak, antraks juga tergolong penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi daging yang terkontaminasi, maupun paparan spora bakteri.
"Setelah penanganan kami lakukan vaksinasi," tandas Indrawati. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto