Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Pakar UPN Ungkap Banyu Anget Pacitan Berasal dari Patahan Aktif Grindulu

Nur Cahyono • Selasa, 23 Juni 2026 | 02:00 WIB
Prof. Eko Teguh Paripurno memberikan kuliah lapangan di kawasan wisata Banyu Anget, Arjosari, Pacitan. NUR CAHYONO/RADAR PACITAH
Prof. Eko Teguh Paripurno memberikan kuliah lapangan di kawasan wisata Banyu Anget, Arjosari, Pacitan. NUR CAHYONO/RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Pacitan – Anggapan bahwa sumber air hangat di kawasan wisata Banyu Anget, Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari, berasal dari aktivitas gunung berapi dipatahkan kalangan akademisi.

Fenomena tersebut justru disebut sebagai salah satu bukti aktivitas geologi dari Patahan Grindulu yang membentang di wilayah Pacitan.

Penjelasan itu disampaikan Prof. Eko Teguh Paripurno saat memberikan kuliah lapangan mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Bencana dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta di kawasan wisata Banyu Anget, kemarin (22/6).

Menurut Eko, kemunculan air hangat di permukaan bumi umumnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni aktivitas magma vulkanik atau pergerakan air bawah tanah yang melewati zona patahan aktif.

Untuk kondisi geologi Pacitan, indikasi yang ditemukan lebih mengarah pada aktivitas patahan dibandingkan pengaruh gunung api.

"Di dunia ini ekspresi air panas umumnya ada dua, karena aktivitas magma dan karena air mengalir pada zona patahan yang mengalami tekanan tertentu. Untuk Pacitan, indikasinya lebih kuat dari patahan, bukan vulkanik," paparnya.

Dia menjelaskan, air yang mengalir melalui rekahan batuan pada zona sesar akan menyerap panas dari lapisan bumi yang lebih dalam sebelum muncul kembali ke permukaan sebagai mata air hangat.

Karena itu, keberadaan sumber air panas tidak selalu identik dengan kawasan gunung api aktif.

Menurut Eko, secara geologi wilayah Pacitan memang tidak berada pada jalur busur vulkanik aktif seperti sejumlah daerah lain di Indonesia.

"Pacitan bukan busur vulkanik aktif. Jadi kalau ditemukan air hangat, peluang terbesar penyebabnya adalah patahan," ujarnya.

Temuan tersebut diperkuat dengan keberadaan sumber air hangat lain di Desa Purworejo yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan Banyu Anget.

Kemunculan fenomena serupa di beberapa titik dinilai menjadi indikasi adanya sistem geologi yang saling terhubung di bawah permukaan tanah.

"Itu semakin memperkuat dugaan bahwa lokasi-lokasi tersebut berada dalam satu sistem geologi yang saling terhubung," ucapnya.

Eko menyebut sistem sesar paling dominan di Kabupaten Pacitan adalah Patahan Grindulu.

Kemunculan sejumlah mata air hangat menjadi petunjuk bahwa aktivitas geologi pada jalur patahan tersebut masih berlangsung.

Meski demikian, aktivitas yang dimaksud bukan berarti selalu identik dengan ancaman bencana.

Sebaliknya, fenomena tersebut dapat menjadi potensi yang bernilai bagi daerah apabila dikelola secara tepat.

"Air hangat ini justru sebuah berkah yang menunjukkan adanya potensi panas bumi. Yang penting adalah memahami risikonya dan menyesuaikan pembangunan dengan kondisi geologi yang ada," terangnya.

Menurut Eko, masyarakat yang tinggal di kawasan patahan perlu menerapkan prinsip hidup berdampingan dengan risiko kebencanaan.

Salah satunya dengan membangun rumah sesuai standar ketahanan gempa serta memperhatikan aspek geologi dalam perencanaan tata ruang wilayah.

"Risiko itu tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dikelola. Kita tidak bisa menghilangkan patahan, tetapi bisa mengurangi dampaknya melalui mitigasi yang baik," pungkasnya. (hyo/den)

Editor : Hengky Ristanto
#patahan grindulu #wisata banyu anget #UPN Veteran Yogyakarta #pacitan #Geologi