Jawa Pos Radar Pacitan – Pengembangan Geopark Gunung Sewu di Pacitan menghadapi tantangan baru.
Tahun ini, kawasan yang menjadi bagian dari jaringan taman bumi global UNESCO tersebut tidak mendapatkan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) tematik pariwisata dari pemerintah pusat.
Padahal, dukungan anggaran pusat selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penopang pengembangan destinasi wisata berbasis geologi, budaya, dan konservasi tersebut.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pacitan, alokasi DAK fisik bidang pariwisata untuk pengembangan geopark mencapai Rp 14 miliar pada 2022.
Nilai itu kemudian turun menjadi Rp 7 miliar pada 2023 dan kembali menyusut menjadi Rp 5 miliar pada 2024.
Namun pada 2026, Pacitan belum menerima alokasi transfer pusat untuk program tematik kepariwisataan.
Plt Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Pacitan Adetya Wicaksana Putra mengatakan, penentuan alokasi DAK sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui skema transfer ke daerah.
“Untuk tahun 2026 transfer pusat yang tematik kepariwisataan sampai dengan bulan ini kami tidak mendapatkan alokasi,” ujarnya, Selasa (23/6).
Meski tanpa dukungan DAK tematik, pemerintah daerah memastikan kondisi geosite yang menjadi bagian dari Geopark Gunung Sewu di Pacitan tetap terjaga dengan baik.
Selain itu, tahun ini juga direncanakan pelaksanaan pra-revalidasi ketiga UNESCO sebagai bagian dari evaluasi status Global Geopark yang disandang kawasan tersebut.
“Terkait kondisi geopark, khususnya milik Pacitan yang terdaftar dalam Gunung Sewu Geopark, kondisinya tetap baik dan terjaga,” katanya.
Dalam proses pra-revalidasi tersebut, Pacitan mengajukan tiga lokasi unggulan.
Yakni Museum Song Terus yang dikelola Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Trowulan, Pantai Klayar, serta Geosite Pantai Pancer Door yang berada di bawah pengelolaan Disparbudpora Pacitan.
“Tiga lokasi tersebut kami ajukan untuk revalidasi,” tambahnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto