Jawa Pos Radar Madiun – Pendidikan kejuruan abad ke-21 menuntut adanya sinkronisasi total antara materi di atas kertas dengan denyut nadi perekonomian riil.
Menjawab tantangan era ekonomi digital tersebut, SMKN Tulakan, Kabupaten Pacitan, mengambil langkah pionir dengan merombak struktur pembelajaran praktik melalui pendekatan pengabdian masyarakat yang terstruktur.
Terobosan revolusioner ini diwujudkan melalui peluncuran Skema Tu-A-Ga, sebuah akronim taktis dari "saTu guru memandu duA siswa untuk mengelola tiGa UMKM".
Model ini mendobrak batas kelas konvensional dengan mematangkan kompetensi profesional guru serta mengasah kesiapan kerja siswa secara simultan langsung di lapangan usaha.
"Melalui Skema Tu-A-Ga, peran guru bertransformasi secara radikal. Mereka tidak hanya bertindak sebagai pengajar teoretis di dalam kelas, melainkan sebagai manajer proyek aktif yang mengarahkan dan membimbing siswa memecahkan masalah riil yang dihadapi oleh para pelaku usaha di Pacitan," terang Kepala SMKN Tulakan, Evi Dhian Asmoro.
Dalam teknis implementasinya, sepasang siswa yang diterjunkan bertindak layaknya konsultan bisnis muda.
Di bawah supervisi ketat dari satu guru pembina, mereka memegang tanggung jawab penuh untuk mendampingi dan mengakselerasi tiga unit UMKM lokal.
Intervensi yang diberikan berfokus pada elemen-elemen krusial industri modern, mulai dari migrasi pemasaran digital (digital marketing), pembenahan tata kelola administrasi keuangan, hingga peningkatan standar kualitas layanan dan pengemasan produk.
Dampak dari ekosistem belajar berbasis kemitraan ini dirasakan sangat masif.
Dari sisi internal, guru memperoleh pengayaan kompetensi praktis berbasis industri, sementara siswa mendapatkan portofolio kerja nyata yang mengasah keterampilan teknis, komunikasi, problem solving, serta pembentukan mental kewirausahaan (entrepreneurship) yang tangguh.
Dari sisi eksternal, sektor UMKM terbantu berkat suntikan ide kreatif dan adopsi teknologi digital gratis yang langsung mendongkrak omzet serta daya saing pasar mereka.
Atas keberhasilan mengarsiteki laboratorium vokasi terintegrasi yang mampu menjadi jembatan emas antara dunia pendidikan formal dengan akselerasi ekonomi kerakyatan ini, SMKN Tulakan dinilai sangat layak menerima penghargaan Innovative Learning dalam ajang Radar Madiun Awards 2026.
Evi Dhian Asmoro menegaskan, capaian ini membuktikan bahwa SMK tidak hanya mencetak pencari kerja, melainkan juga agen pemulihan ekonomi masyarakat sekitar.
"Inovasi ini adalah komitmen kami untuk memastikan bahwa lulusan SMKN Tulakan siap berdiri di garda terdepan ekonomi digital masa depan tanpa canggung terhadap realitas industri," pungkasnya. (uci/*/naz)
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun