Jawa Pos Radar Madiun – Kabupaten Pacitan mulai memasuki fase waspada kekeringan seiring cuaca yang semakin panas dan minimnya curah hujan.
Meski telah mengalami 21 hari tanpa hujan, hingga akhir Juni 2026 belum ada laporan maupun permintaan bantuan distribusi air bersih dari masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
"Alhamdulillah sampai saat ini belum ada permintaan bantuan air bersih dari masyarakat," kata Erwin, Rabu (1/7).
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Tercatat sebanyak 33 desa dan 97 dusun di delapan kecamatan masuk dalam kawasan rawan krisis air bersih.
Namun demikian, Erwin menegaskan data tersebut hanya menjadi acuan awal.
Tingkat kerawanan di lapangan dapat berubah setiap tahun bergantung pada kondisi sumber mata air dan ketersediaan air tanah.
"Sebab, kondisi sumber air di lapangan dapat berubah setiap tahun sehingga tingkat kerawanan kekeringan perlu diperbarui secara berkala," ujarnya.
Untuk memperbarui data tersebut, BPBD telah mengirimkan surat kepada seluruh kecamatan dan pemerintah desa agar melakukan pemetaan ulang wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau tahun ini.
Menurut Erwin, langkah tersebut penting agar pemerintah dapat mengambil tindakan lebih cepat apabila terjadi penurunan debit air maupun muncul permintaan bantuan dari masyarakat.
"Data tersebut hanya sebagai acuan, kondisi kedalaman dan ketersediaan sumber air tidak ada yang tahu pasti karena bisa berubah setiap tahun," pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto