Jawa Pos Radar Pacitan – Peternak ayam petelur di Kabupaten Pacitan menghadapi tekanan ganda.
Di satu sisi harga telur di tingkat peternak turun hingga Rp18.500 per kilogram, sementara biaya produksi terus meningkat akibat mahalnya harga pakan.
Kondisi tersebut mendorong Pemkab Pacitan mencari solusi agar usaha peternak tetap bertahan.
Salah satunya dengan memperluas penyerapan telur lokal melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan Sugeng Santoso mengatakan, pihaknya telah mempertemukan peternak dengan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperkuat penyerapan hasil produksi lokal setelah operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali berjalan pascalibur sekolah.
"Kalau kebutuhan telur belum terpenuhi, baru pasokan didatangkan dari luar daerah," ujarnya, Jumat (10/7).
Menurut Sugeng, seluruh SPPG di Pacitan diminta memprioritaskan penggunaan telur dari peternak lokal dalam penyediaan menu MBG.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga telur di tingkat peternak.
Selain memperluas pasar, pemerintah juga menekan biaya produksi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk jagung pakan.
Tahun ini Kabupaten Pacitan memperoleh alokasi sebanyak 513.600 kilogram jagung dengan harga Rp5.250 per kilogram.
Penyaluran dilakukan melalui Asosiasi Peternak Kawuryan Pacitan sesuai kebutuhan masing-masing peternak.
Hingga saat ini, realisasi distribusi jagung pakan telah mencapai sekitar 43.700 kilogram.
"Kami berharap langkah tersebut mampu menjaga keberlangsungan usaha peternak di tengah anjloknya harga telur dan meningkatnya biaya pakan," kata Sugeng. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto