6.582 Gempa Terjadi dalam Lima Tahun, BMKG Sebut Pacitan Sangat Rawan Tsunami

Nur Cahyono • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 16:15 WIB
Peserta mengikuti Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo. DOK RADAR PACITAN
Peserta mengikuti Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo. DOK RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Madiun - Kabupaten Pacitan kembali diingatkan sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan gempa bumi dan tsunami tertinggi di pesisir selatan Pulau Jawa.

Letaknya yang berhadapan langsung dengan zona subduksi atau megathrust membuat wilayah ini memiliki aktivitas kegempaan yang sangat tinggi.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, sepanjang periode 2021–2025 telah terjadi 6.582 kejadian gempa bumi di wilayah Pacitan dan sekitarnya.

Dari jumlah tersebut, 25 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal tersebut saat membuka Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) di Balai Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Jumat (17/7).

 

Menurut Faisal, tingginya aktivitas gempa tidak terlepas dari posisi geografis Pacitan yang berada di pesisir selatan Jawa dan berbatasan langsung dengan zona megathrust.

"Ini menunjukkan aktivitas kegempaan di Pacitan sangat tinggi," terangnya.

BMKG menilai kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memahami potensi bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

Selain data kegempaan terkini, catatan sejarah juga menunjukkan Pacitan pernah beberapa kali mengalami bencana besar.

Beberapa di antaranya adalah tahun 1840, gempa besar yang memicu tsunami.

Baca Juga: Bupati Lombok Barat Kena OTT KPK, Ini Profil Lalu Ahmad Zaini

Tahun 1859, kembali terjadi gempa besar yang menyebabkan tsunami.

27 September 1937, gempa berkekuatan besar merobohkan sekitar 2.200 rumah dan menimbulkan korban jiwa.

Menurut Faisal, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman gempa dan tsunami di Pacitan bukan sekadar potensi, tetapi pernah benar-benar terjadi.

Faisal menegaskan hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa bumi maupun tsunami akan terjadi.

Karena itu, langkah terbaik adalah membangun budaya sadar bencana melalui edukasi, simulasi, dan latihan secara berkelanjutan.

"Gempa dan tsunami belum dapat diprediksi kapan terjadinya. Tetapi kesiapsiagaan bisa kita bangun dan kita latih sejak dini," katanya.

Baca Juga: Cerpen Wayang Wrehatnala Tantang Utara 1: Teguran yang Mengubah Putra Wirata

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) yang tahun ini memasuki pelaksanaan ketujuh sejak pertama kali digelar pada 2016.

Program tersebut sekaligus menegaskan Pacitan menjadi salah satu daerah prioritas BMKG dalam penguatan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah menegaskan kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Menurutnya, posisi Pacitan yang berada di pesisir selatan serta berdekatan dengan zona megathrust dan sesar aktif membuat seluruh elemen masyarakat harus memahami langkah mitigasi bencana.

''Berdekatan dengan zona megathrust dan sesar aktif, maka kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban," katanya. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
mitigasi bencana pacitan gempa Tsunami bmkg