Jawa Pos Radar Madiun - Musim kemarau mulai meningkatkan potensi kekeringan di Kabupaten Pacitan.
BPBD memetakan sedikitnya 97 dusun di 33 desa berpotensi mengalami krisis air bersih apabila debit sumber mata air terus menurun.
Meski demikian, hingga pertengahan Juli 2026 belum ada pemerintah desa yang mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada BPBD.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, belum adanya pengajuan bantuan menunjukkan kondisi di lapangan masih relatif terkendali.
Namun, pihaknya tetap bersiaga mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kebutuhan air bersih apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
''Sampai saat ini belum ada pengajuan dari pemerintah desa melalui kecamatan kepada kami,'' ujarnya, Senin (20/7).
BPBD telah menyiapkan personel, armada, hingga anggaran untuk memastikan distribusi air bersih dapat dilakukan sewaktu-waktu jika dibutuhkan masyarakat.
Berdasarkan hasil pemetaan sementara, wilayah yang memiliki potensi terdampak kekeringan meliputi Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Donorojo, dan Tulakan.
Menurut Erwin, sebagian besar wilayah tersebut sebenarnya telah memiliki jaringan atau instalasi air bersih.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menjamin ketersediaan air selama musim kemarau.
''Daerah-daerah tersebut sebetulnya sudah memiliki instalasi air bersih. Namun, belum tentu aman juga karena debit mata air saat kemarau bisa saja menurun,'' katanya.
Karena itu, BPBD terus memantau perkembangan kondisi sumber air di sejumlah wilayah rawan.
Erwin menjelaskan, setiap permohonan bantuan air bersih dari desa akan terlebih dahulu melalui proses asesmen.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan wilayah yang mengajukan benar-benar mengalami krisis air bersih sehingga bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran.
''Persiapan sudah kami lakukan, mulai perbaikan armada hingga koordinasi dengan OPD dan BPBD Jatim. Tinggal menunggu jika ada pengajuan, kami langsung bergerak,'' tegasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto