Jawa Pos Radar Madiun – Festival Ronthek Pacitan tak hanya menggema lewat denting bambu.
Perputaran ekonomi warga juga ikut bergeliat.
Hal itu dibuktikan dari keberadaan Pasar Krempyeng yang menjadi bagian dari rangkaian festival.
Ketua Panitia Pasar Krempyeng Khoirul Amin mengatakan, sebanyak 40 tenant terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini.
Mereka berasal dari pelaku UMKM, perajin kriya, wastra, binaan OPD, komunitas kopi, hingga pelaku usaha dari berbagai kecamatan.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Ngawi Belum Punya Guru Tetap, Pemkab Siapkan 14 Guru Bantuan
’’Target kami setiap malam sekitar 5.000–10.000 pengunjung datang ke area ini,’’ ujarnya, Senin (20/7).
Panitia juga menghadirkan konsep baru berupa gubuk bambu yang menampilkan berbagai kerajinan dan budaya bambu khas Pacitan.
Konsep itu diharapkan memperkuat identitas Festival Ronthek sebagai ajang pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal.
’’Budaya bambu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pacitan, mulai untuk bercocok tanam, peralatan rumah tangga, alat musik, hingga permainan tradisional,’’ katanya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto