El Nino Diprediksi Bertahan hingga Mei 2027, Waspada Kekeringan dan Karhutla di Jatim

Nur Cahyono • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 15:32 WIB
SIAGA KEMARAU: Pemerintah mengingatkan potensi dampak El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Mei 2027. NUR CAHYONO/RADAR PACITAN
SIAGA KEMARAU: Pemerintah mengingatkan potensi dampak El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Mei 2027. NUR CAHYONO/RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman musim kemarau panjang diperkirakan masih membayangi Indonesia.

Pemerintah memprediksi fenomena El Nino akan terus memengaruhi kondisi cuaca hingga Mei 2027, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Lilik Kurniawan mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

"El Nino merupakan fenomena alam yang dapat memperpanjang musim kemarau. Karena itu, kita harus mengantisipasi dampaknya sejak dini," ujarnya saat menghadiri Gelar Peralatan BPBD Jawa Timur di Pantai Pancer Door, Pacitan, Selasa (21/7).

Lilik mengungkapkan, sejumlah daerah di Jawa Timur mulai merasakan dampak musim kemarau berupa kekeringan.

Kondisi tersebut berpotensi memicu meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga terganggunya produktivitas sektor pertanian.

"Beberapa daerah di Jawa Timur sudah mulai mengalami kekeringan. Setelah itu biasanya diikuti meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Di Kabupaten Pacitan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memetakan 33 desa dan 97 dusun yang tersebar di delapan kecamatan sebagai wilayah rawan kekeringan.

Pemerintah juga memastikan seluruh sarana dan prasarana penanggulangan bencana, termasuk mobil tangki air bersih, dalam kondisi siap digunakan selama musim kemarau.

Selain kesiapan peralatan, ketersediaan personel yang mampu mengoperasikan perlengkapan tersebut juga menjadi perhatian.

"Jangan sampai peralatannya tersedia, tetapi tidak ada personel yang mampu mengoperasikan," tegas Lilik. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
BPBD Jatim el nino kekeringan