Jawa Pos Radar Madiun – Pemkab Pacitan mengakui fasilitas mitigasi bencana di kawasan pesisir masih belum memadai.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah minimnya tempat evakuasi akhir (TEA), padahal Pacitan memiliki garis pantai sekitar 70 mil dan berada di kawasan rawan gempa bumi serta tsunami.
Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah mengatakan, kondisi geografis dan topografi Pacitan yang didominasi kawasan pantai, pegunungan, serta perbukitan membuat daerah tersebut menghadapi ancaman berbagai jenis bencana, mulai gempa bumi, tsunami, hingga tanah longsor.
"Kami sadar betul secara geografis dan topografis, Kabupaten Pacitan memiliki potensi bencana yang kompleks," ujarnya saat Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa waktu lalu.
Menurut Gagarin, fasilitas evakuasi sebenarnya telah tersedia.
Namun, jumlahnya masih jauh dari kebutuhan sehingga diperlukan dukungan pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat infrastruktur mitigasi bencana di wilayah pesisir.
"Tempat evakuasi sebenarnya sudah ada, tetapi masih minim. Kami berharap hal ini bisa menjadi perhatian untuk ditindaklanjuti," kata mantan Wakil Ketua DPRD Pacitan tersebut.
Selain penambahan tempat evakuasi akhir, Pemkab Pacitan juga mendorong penguatan sistem peringatan dini serta penyusunan peta keselamatan yang lebih komprehensif melalui kolaborasi dengan BMKG dan berbagai instansi terkait.
Di sisi lain, peningkatan literasi kebencanaan masyarakat terus digencarkan.
Menurut Gagarin, kesiapsiagaan warga menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko dan dampak saat bencana terjadi.
"Bencana memang tidak bisa dicegah. Yang bisa dilakukan adalah memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan agar dampaknya dapat diminimalkan," tegasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto