Ironis! Hampir 40 Persen Kebun Kopi Pacitan Terbengkalai, Produksi Masih Rendah

Nur Cahyono • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 20:40 WIB
DORONG PRODUKTIVITAS: Pelestarian budaya kopi dan pendampingan petani terus didorong untuk meningkatkan produksi kopi unggulan Pacitan.
DORONG PRODUKTIVITAS: Pelestarian budaya kopi dan pendampingan petani terus didorong untuk meningkatkan produksi kopi unggulan Pacitan.

Jawa Pos Radar Madiun – Potensi kopi sebagai komoditas unggulan Kabupaten Pacitan belum tergarap optimal.

Dari total sekitar 2.300 hektare kebun kopi, sebanyak 900 hektare atau hampir 40 persen berada dalam kondisi rusak dan tidak terawat.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan Muhtar Yahya mengatakan, saat ini sekitar 600 hektare merupakan tanaman belum menghasilkan dan 700 hektare telah memasuki masa produksi.

Sementara sisanya mengalami kerusakan akibat minim perawatan.

"Sekitar 900 hektare mengalami kerusakan atau tidak terawat," ujarnya, Jumat (31/7).

Menurut Muhtar, banyak tanaman kopi tidak dipanen secara rutin sehingga pohonnya tumbuh terlalu tinggi, memasuki usia tua, dan produktivitasnya terus menurun.

Baca Juga: Daftar Bansos Cair Agustus 2026: Ada PKH hingga Bantuan Beras

"Rusak karena tanaman tidak dipetik atau dibiarkan. Pohonnya terlalu tinggi sehingga menjadi tanaman tua dan akhirnya tidak produktif," katanya.

Data DKPP menunjukkan, produksi kopi Pacitan sepanjang 2021–2025 rata-rata hanya sekitar 400 ton kopi kering per tahun dari 700 hektare lahan produktif.

Produktivitasnya sekitar 5,5 kuintal per hektare per tahun, masih di bawah potensi ideal yang dapat mencapai delapan kuintal per hektare apabila tanaman dirawat secara optimal.

Padahal, peluang pasar kopi masih terbuka lebar.

Baca Juga: Daftar Harga BBM Nonsubsidi Terbaru per 1 Agustus: Pertamax Turun Jadi Rp 15.950

Kebutuhan bahan baku industri kopi di Jawa Timur mencapai sekitar 55 ribu ton per tahun.

Namun, produktivitas kopi Pacitan masih tertinggal dibandingkan daerah penghasil kopi lainnya di Jawa Timur.

"Artinya, tanaman kopi di Pacitan belum dibudidayakan dengan baik. Padahal kopi sudah menjadi produk unggulan daerah dan peluang pasarnya masih sangat lebar," tegas Muhtar.

Ketua DPRD Pacitan Arif Setia Budi menilai komoditas kopi berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Karena itu, DPRD mendorong penyuluh pertanian lapangan (PPL) lebih aktif mendampingi petani agar produktivitas dan daya saing kopi Pacitan meningkat.

"Potensi kopi di Pacitan sangat besar. Pendampingan kepada petani harus diperkuat agar kopi Pacitan mampu bersaing di tingkat nasional," tandasnya. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
kopi pacitan perkebunan kopi produktivitas kopi DKPP Pacitan