Jawa Pos Radar Madiun – Musim kemarau mulai berdampak di sejumlah wilayah Pacitan.
Beberapa desa kini mengajukan permintaan bantuan air bersih setelah kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, distribusi air bersih telah dilakukan menyusul meningkatnya permintaan dari masyarakat.
"Dropping sudah mulai berjalan karena beberapa desa mengajukan permintaan bantuan air bersih," ujarnya, Kamis (6/8).
Erwin memperkirakan kebutuhan air bersih akan terus meningkat apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Berkaca pada 2024, kekeringan melanda delapan kecamatan, 32 desa, dan 96 dusun dengan 23.418 jiwa terdampak.
Saat itu, BPBD Pacitan menyalurkan 6.838 rit atau lebih dari 20 juta liter air selama 60 hari untuk memenuhi kebutuhan warga.
Namun, penanganan tahun ini masih menghadapi kendala anggaran. BPBD belum dapat menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) karena status tanggap darurat kekeringan belum ditetapkan.
"SK tanggap darurat belum ada, sehingga BTT belum bisa digunakan," jelas Erwin.
Untuk memastikan distribusi tetap berjalan, BPBD mengupayakan dukungan pendanaan dari Pemprov Jawa Timur, perbankan, lembaga amil, hingga sektor swasta.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga melanjutkan program jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur air bersih.
Dari 67 program penyediaan air di 25 desa rawan kekeringan, sebanyak 53 kegiatan telah selesai, tiga masih berjalan, dan 11 lainnya belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.
"Kami berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung panjang sesuai prediksi BMKG, sehingga kebutuhan air bersih masyarakat tetap dapat terpenuhi," pungkas Erwin. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto