Jawa Pos Radar Madiun – Belajar mandiri tak harus selalu berlangsung di dalam kelas.
Sebanyak 65 anak difabel dari lima gugus depan sekolah luar biasa (SLB) se-Kabupaten Pacitan mengasah keterampilan hidup melalui perkemahan berkebutuhan khusus di SLB Negeri Ngadirojo.
Kegiatan selama dua hari sejak Kamis (6/8) tersebut dirancang bukan sekadar sebagai aktivitas rekreatif.
Para peserta mendapat kesempatan mengembangkan kemandirian, keterampilan, sekaligus kemampuan bersosialisasi dengan sesama.
Ketua penyelenggara Samsul Arifin mengatakan, siswa SLB perlu mendapatkan ruang untuk berlatih mengurus kebutuhan diri sendiri.
Kemampuan tersebut penting untuk membangun kemandirian sekaligus membekali mereka agar dapat berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peserta dilatih memiliki sikap tanggap, tangkas, dan tangguh ketika menghadapi berbagai situasi. Termasuk kesiapsiagaan ketika menghadapi bencana.
’’Perlu membangun persatuan dan kesatuan antarpeserta,’’ ujarnya.
Menurut Samsul, dukungan orang tua dan wali menjadi faktor penting dalam keberhasilan kegiatan.
Pendampingan tersebut diperlukan agar keterampilan yang diperoleh selama perkemahan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selama dua hari, para peserta mengikuti sederet kegiatan edukatif dan rekreatif.
Salah satunya pembelajaran mitigasi bencana bersama BPBD Pacitan.
’’Mulai materi mitigasi bencana yang diberikan BPBD Pacitan, pentas seni, hingga kegiatan penjelajahan,’’ ungkapnya.
Tak berhenti pada materi, peserta juga diajak mencoba langsung sejumlah keterampilan praktis.
Mulai latihan ketangkasan memanah hingga teknik sederhana menjernihkan air.
Ada pula aktivitas membakar jagung yang dikemas untuk melatih kemampuan peserta melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.
Seluruh rangkaian dirancang dengan menyesuaikan kemampuan dan kebutuhan peserta.
’’Anak-anak berkebutuhan khusus tidak hanya diajak bergembira, tetapi juga dibekali keterampilan hidup,’’ pungkas Samsul. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto