Sekolah Rakyat Terintegrasi Pacitan Ditempati 15 Agustus, Proyek Baru 93 Persen

Nur Cahyono • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:30 WIB
DIKEBUT: Pekerja menyelesaikan pembangunan kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi Pacitan. NUR CAHYONO/RADAR PACITAN
DIKEBUT: Pekerja menyelesaikan pembangunan kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi Pacitan. NUR CAHYONO/RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Madiun – Tenggat pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Pacitan semakin dekat.

Kompleks pendidikan tersebut dijadwalkan mulai ditempati 408 siswa pada 15 Agustus mendatang, sementara progres pengerjaan baru mencapai sekitar 93 persen.

Sejumlah pekerjaan pun masih dikebut. Pantauan Senin (10/8), aktivitas pembangunan terlihat di beberapa fasilitas yang belum rampung.

Di antaranya asrama untuk siswa SMP dan SMA, gedung sekolah jenjang SD, serta kantin SD dan SMA.

Pengerjaan fasilitas tersebut berlangsung ketika waktu menuju perpindahan siswa tinggal hitungan hari.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Pacitan Heri Setijono mengatakan, tidak seluruh fasilitas di kompleks SR Terintegrasi Pacitan harus difungsikan tahun ini.

Bangunan yang dibutuhkan untuk menampung siswa pada tahap awal dipastikan siap digunakan.

’’Progres terakhir 93 persen. Meskipun mungkin belum semuanya selesai karena memang tidak semuanya digunakan tahun ini,’’ ujarnya.

Pada tahap awal, empat gedung asrama akan digunakan. Perinciannya, dua asrama untuk siswa putra dan dua lainnya bagi siswa putri.

Setiap asrama memiliki kapasitas sekitar 136 penghuni.

Dengan demikian, empat bangunan tersebut dinilai mencukupi untuk menampung 408 siswa yang bakal menempati kompleks SR Terintegrasi Pacitan.

’’Kalau empat (asrama) sekitar 500 sekian. Sementara penghuninya baru 408,’’ terang mantan kepala DPMD Pacitan tersebut.

Ratusan siswa itu berasal dari SRMA 23 dan SRMA 46 ditambah peserta didik hasil penjangkauan tahun ajaran 2026/2027.

Ketika seluruh jenjang dan rombongan belajar terisi, SR Terintegrasi Pacitan diproyeksikan mampu menampung sekitar 1.080 siswa.

Penerimaan peserta didik dilakukan secara bertahap menggunakan sistem multi-entry multi-exit.

’’Selama belum memenuhi kuota, sebenarnya masih dibuka,’’ katanya.

Sembari menunggu kompleks baru dapat ditempati, para siswa menjalani pembelajaran jarak jauh.

Pengelola juga memberikan pembekalan kepada siswa dan orang tua di masing-masing kecamatan.

Namun, pemenuhan kuota siswa jenjang SD masih menjadi pekerjaan rumah. Hingga kini, baru sekitar 20 anak yang berhasil direkrut.

Bahkan, sejumlah calon siswa yang sebelumnya telah mendaftar memilih mengundurkan diri.

Heri menyebut kesiapan orang tua melepas anak tinggal di asrama menjadi salah satu kendala utama.

Padahal, berbagai kebutuhan siswa mulai pendidikan, pakaian, hingga kebutuhan hidup ditanggung melalui program Sekolah Rakyat.

’’Kami sudah berupaya meyakinkan bahwa SR memberikan bantuan secara menyeluruh. Tapi, karena situasinya seperti itu, kami tidak bisa memaksa,’’ pungkasnya. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
heri setijono SR Terintegrasi pacitan Sekolah Rakyat Dinsos Pacitan