Jawa Pos Radar Madiun – Ekspedisi Gahvara Yava 2026 mengungkap bentang baru Luweng Ombo di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Pacitan.
Tim berhasil menambah pemetaan lorong sepanjang 1.242,5 meter sehingga total panjang gua yang telah terpetakan kini mencapai 8.242,5 meter.
Temuan tersebut membuat Luweng Ombo tercatat sebagai gua terpanjang ketujuh di Indonesia.
Sebelumnya, gua berkedalaman mencapai 246 meter yang juga dikenal sebagai salah satu gua terdalam di Pulau Jawa itu berada di urutan kesembilan.
Ketua Ekspedisi Gahvara Yava 2026 Muh Wahid Guntur Pambudi mengatakan, perluasan pemetaan lorong menjadi salah satu target utama ekspedisi tahun ini.
’’Alhamdulillah berhasil menambah sepanjang 1.242,5 meter sehingga total panjang petanya sekarang menjadi 8.242,5 meter,’’ ujarnya, Senin (17/8).
Angka 8,2 kilometer tersebut belum menjadi panjang akhir Luweng Ombo. Tim ekspedisi menemukan sejumlah lorong yang masih berlanjut dan belum berhasil ditelusuri.
Lorong tersebut berstatus continue unexplored (CUE). Artinya, masih terbuka peluang panjang pemetaan Luweng Ombo bertambah dalam ekspedisi selanjutnya.
Ekspedisi kali ini juga berhasil memverifikasi konektivitas antara Luweng Ombo dan Luweng Kebon.
Hubungan kedua gua sebelumnya telah tergambar dalam peta, tetapi baru dapat dipastikan melalui penelusuran langsung.
’’Berhasil kita verifikasi bahwa memang betul Luweng Kebon terkoneksi dengan lorong utama Gua Luweng Ombo,’’ terang Guntur.
Koneksi tersebut diketahui berlanjut hingga Mosi Chamber. Kendati demikian, tim belum berencana langsung melanjutkan eksplorasi.
Hasil penelusuran akan dievaluasi terlebih dahulu untuk menentukan strategi ekspedisi berikutnya.
Ekspedisi Gahvara Yava 2026 tak hanya berfokus pada pemetaan. Tim juga mengambil sampel sedimen lumpur dan air untuk pengujian environmental DNA (eDNA).
Sejumlah biota bawah tanah, termasuk udang dan kepiting, turut dikoleksi. Penelitian tersebut dilakukan untuk membantu mengidentifikasi ekosistem yang hidup di dalam Luweng Ombo.
Penelusuran gua memiliki tantangan tinggi. Tim harus melewati endapan lumpur yang di beberapa titik mencapai dada hingga leher orang dewasa.
Kadar oksigen rendah juga ditemukan di sejumlah lorong. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gangguan terhadap penelusur.
’’Di beberapa section ada fenomena hiperventilasi atau minim oksigen yang menyebabkan gejala hipoksia terhadap penelusur,’’ jelas Guntur.
Kondisi medan dan temuan selama penelusuran akan menjadi bahan evaluasi sebelum tim kembali memasuki lorong-lorong Luweng Ombo yang belum terjamah.
’’Hasil evaluasi ekspedisi kali ini tentu menjadi bekal untuk ekspedisi berikutnya,’’ pungkasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto