MPLS SRT 1 Pacitan Sudah Dimulai, Pembangunan Sekolah Baru 95 Persen

Nur Cahyono • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:35 WIB
BELUM TUNTAS: Pekerja menyelesaikan finishing sejumlah fasilitas SRT 1 Pacitan saat kegiatan MPLS sudah mulai berlangsung. (Nur Cahyono/Jawa Pos Radar Pacitan)
BELUM TUNTAS: Pekerja menyelesaikan finishing sejumlah fasilitas SRT 1 Pacitan saat kegiatan MPLS sudah mulai berlangsung. (Nur Cahyono/Jawa Pos Radar Pacitan)

Jawa Pos Radar Madiun – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Pacitan sudah dimulai sejak Sabtu (15/8).

Namun, pembangunan kompleks sekolah di Kelurahan Sidoharjo tersebut belum sepenuhnya rampung dengan progres diperkirakan baru sekitar 95 persen.

Sejumlah pekerja masih terlihat melakukan finishing di beberapa titik. Artinya, proses penyempurnaan fasilitas berjalan bersamaan dengan dimulainya aktivitas siswa di sekolah tersebut.

Sekda Pacitan Heru Wiwoho mengakui pembangunan SRT 1 Pacitan masih memasuki tahap akhir.

Pemerintah berharap seluruh sarana dan prasarana di kompleks seluas sekitar 7,5 hektare itu segera rampung.

’’Kami menyadari SRT 1 Pacitan saat ini masih dalam proses akhir pembangunan dan penyempurnaan. Kami ingin seluruh sarana dan prasarana pendukung segera selesai dan dapat digunakan secara optimal,’’ ujarnya, Selasa (18/8).

Heru mengatakan, kelengkapan fasilitas menjadi krusial karena SRT 1 Pacitan menerapkan sistem pendidikan berasrama.

Para siswa nantinya tidak hanya belajar di kompleks sekolah. Mereka juga tinggal, beribadah, berolahraga, serta mengembangkan bakat dan keterampilan di lingkungan yang sama.

Karena itu, penyelesaian seluruh fasilitas diharapkan dapat memberikan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi siswa.

Namun, Heru mengingatkan pembangunan Sekolah Rakyat tidak boleh hanya berorientasi pada penyelesaian infrastruktur.

’’Yang jauh lebih penting adalah membangun sumber daya manusia,’’ tegasnya.

Pemkab Pacitan berharap keberadaan SRT 1 Pacitan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, mandiri, terampil, sekaligus memiliki kepedulian sosial.

Sekolah tersebut juga diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan.

’’Kemiskinan tidak boleh diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan adalah salah satu jalan utama untuk memutus mata rantai kemiskinan,’’ kata mantan kepala Bappeda Pacitan tersebut.

Heru juga meminta para orang tua tetap terlibat dalam pendidikan anak meski SRT menerapkan sistem berasrama.

Menurut dia, tanggung jawab pendidikan tidak sepenuhnya dapat diserahkan kepada sekolah.

’’Mari kita bangun kerja sama antara orang tua, sekolah, pemerintah, dan seluruh pihak yang peduli terhadap masa depan anak-anak kita,’’ pungkasnya. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
Sekolah Rakyat Terintegrasi SRT 1 Pacitan sekolah rakyat pacitan mpls