Empat Bangku SD Sekolah Rakyat Pacitan Masih Kosong, Orang Tua Belum Tega Lepas Anak

Nur Cahyono • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:30 WIB
CARI SISWA: Pihak SRT 1 Pacitan bersama pendamping PKH turun langsung mencari calon peserta didik baru jenjang SD dari keluarga desil 1–2. Empat dari 30 bangku masih kosong. (SRT 1 Pacitan)
CARI SISWA: Pihak SRT 1 Pacitan bersama pendamping PKH turun langsung mencari calon peserta didik baru jenjang SD dari keluarga desil 1–2. Empat dari 30 bangku masih kosong. (SRT 1 Pacitan)

Jawa Pos Radar Madiun – Kuota siswa jenjang SD di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Pacitan belum terpenuhi. Dari pagu 30 peserta didik, baru 26 anak yang terisi.

Pihak sekolah bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) kini masih berburu empat calon siswa tambahan.

Pencarian terutama menyasar anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2. Petugas bahkan turun langsung untuk mencari calon peserta didik yang memenuhi kriteria.

Kepala SD/SMP SRT 1 Pacitan Bayu Arifyanto mengakui mencari peserta didik jenjang SD tidak mudah.

’’Teman-teman PKH masih berusaha melakukan pencarian. Memang tidak mudah mencari anak SD,’’ ujarnya, Selasa (18/8).

Bayu mengatakan, pada tahap awal baru 20 siswa SD yang terdata. Jumlah tersebut kemudian bertambah enam anak menjadi 26 peserta didik.

Peluang memenuhi empat kursi tersisa masih terbuka meski masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) telah berlangsung.

Sebab, Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi-entry multi-exit. Dengan sistem tersebut, peserta didik masih dimungkinkan masuk setelah rangkaian MPLS selesai.

’’Datanya terus bergerak. Insya Allah masih bisa masuk walaupun MPLS selesai,’’ katanya.

Menurut Bayu, salah satu kendala utama memenuhi kuota justru datang dari kesiapan orang tua.

Tidak sedikit orang tua yang belum tega melepas anak usia SD untuk tinggal di asrama dan terpisah dari keluarga.

Faktor usia membuat anak dinilai masih membutuhkan kedekatan intens dengan orang tua.

’’Anak SD masih kecil, sebagian besar masih dikeloni. Jadi, orang tua belum siap,’’ jelasnya.

SRT 1 Pacitan juga mengantisipasi persoalan adaptasi siswa setelah tinggal di asrama.

Sekolah menyiapkan masa transisi sekitar satu bulan bagi anak-anak yang belum betah maupun mengalami kerinduan terhadap keluarga.

Pendampingan dilakukan secara bertahap agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan berasrama.

’’Kami akan mengedukasi anak-anak pelan-pelan dan membuat mereka senyaman mungkin di sini,’’ pungkas Bayu. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
SRT 1 Pacitan siswa Sekolah Rakyat pacitan Sekolah Rakyat PKH