Jawa Pos Radar Madiun – Dampak kemarau di Kabupaten Pacitan semakin meluas.
Sedikitnya 24.263 jiwa yang tersebar di 34 desa kini membutuhkan pasokan air bersih akibat sumber air yang terus menyusut.
Puluhan desa terdampak tersebut tersebar di delapan kecamatan.
Pemerintah desa telah mengajukan permohonan dropping air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan.
’’Sampai saat ini yang sudah bersurat ke BPBD ada 34 desa di delapan kecamatan. Kurang lebih 24.263 jiwa membutuhkan layanan air bersih,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko, Kamis (20/8).
Banyaknya permintaan membuat BPBD Pacitan harus menentukan skala prioritas distribusi.
Setiap permohonan yang masuk tidak serta-merta langsung mendapatkan dropping air.
Petugas lebih dulu melakukan pengecekan kondisi di lapangan.
Wilayah dengan sumber air yang semakin menipis dan kebutuhan masyarakat paling mendesak bakal mendapatkan prioritas.
’’Kami prioritaskan wilayah yang sumber airnya sudah mulai sulit dan masyarakat benar-benar membutuhkan,’’ ujarnya.
Panjang hari tanpa hujan menjadi salah satu pemicu krisis air bersih di Pacitan. Kondisi cukup parah tercatat di Kecamatan Pringkuku.
Wilayah tersebut tercatat mengalami periode tanpa hujan hingga 82 hari.
Semakin panjang musim kering berlangsung, potensi bertambahnya daerah yang mengalami kesulitan air bersih juga semakin besar.
’’Semakin panjang tidak turun hujan, potensi kekurangan air bersih juga semakin besar,’’ jelas Erwin.
BPBD Pacitan meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air. Terutama warga yang tinggal di wilayah dengan debit sumber air yang terus menyusut.
Pemerintah desa juga diminta aktif memantau kondisi sumber air dan tidak terlambat melaporkan apabila kebutuhan masyarakat semakin mendesak.
’’Kalau kondisi sumber air semakin menurun, segera laporkan agar bisa kami lakukan penanganan,’’ pungkasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto