Jawa Pos Radar Madiun – Dropping air menggunakan mobil tangki bukan satu-satunya cara menghadapi kekeringan di Pacitan.
Pemkab Pacitan mulai menyiapkan solusi jangka panjang melalui Pipanisasi Gedhen untuk mengalirkan air ke wilayah yang saban tahun dilanda krisis.
Program tersebut menyasar tiga kecamatan sekaligus, yakni Tulakan, Punung, dan Pringkuku.
Pembangunan jaringan bakal melibatkan pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat.
Kabid Penyehatan Lingkungan dan Air Minum (PLAM) DPUPR Pacitan Tonny Setyo Nugroho mengatakan, konsepnya memanfaatkan sumber air yang tersedia untuk kemudian dialirkan menuju wilayah yang membutuhkan.
’’Ini semangat gotong royong untuk menghadirkan akses air bagi masyarakat Pacitan di tengah krisis air,’’ ujarnya, Selasa (25/8).
Tahap awal pipanisasi Pacitan menyasar tiga desa yang berada di tiga kecamatan.
Yakni, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan; Desa Punung, Kecamatan Punung; serta Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkuku.
Jaringan induk tersebut dirancang agar dapat dimanfaatkan secara bersama-sama.
Harapannya, masyarakat memiliki akses air yang lebih mudah ketika pasokan mulai menipis saat kemarau.
’’Jaringan induk nantinya dapat dimanfaatkan bersama untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat,’’ jelas Tonny.
Pemkab tidak ingin jaringan pipa tersebut hanya berfungsi sebagai solusi darurat ketika kemarau mencapai puncaknya.
Infrastruktur itu diproyeksikan menjadi sumber akses air berkelanjutan bagi kawasan yang selama ini menjadi langganan krisis air.
Dengan begitu, ketergantungan terhadap pengiriman air menggunakan mobil tangki secara bertahap dapat ditekan.
Terutama di daerah yang memiliki sumber air, tetapi terkendala jaringan distribusi menuju permukiman.
Kolaborasi pemerintah, relawan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pembangunan jaringan tersebut.
’’Bersama kita alirkan air, hadirkan manfaat dan harapan,’’ pungkas Tonny. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto