Jawa Pos Radar Madiun – Petani Pacitan mulai dikenalkan dengan sistem tanam benih langsung (tabela) untuk menjaga produktivitas sekaligus menekan ongkos produksi.
Metode tersebut memungkinkan benih padi langsung ditanam tanpa membutuhkan tenaga buruh tanam.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan tengah menguji metode tersebut melalui program Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS). Salah satu lokasi uji coba berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung.
Kabid Pertanian dan Hortikultura DKPP Pacitan Agus Rustamto mengatakan, penerapan tabela masih dalam tahap awal dan dilakukan di sejumlah kecamatan.
“Ini kami coba, beberapa kecamatan sudah mulai,” kata Agus, kemarin (5/9).
Sistem tanam benih langsung memiliki tahapan berbeda dibandingkan metode tanam padi konvensional.
Sebelum benih ditebar, petani harus melakukan pengolahan lahan, mengecek pH tanah, memberikan pupuk sesuai dosis, hingga melakukan pengendalian gulma.
Konsekuensinya, kebutuhan benih padi meningkat dua kali lipat. Dari sebelumnya sekitar 35 kilogram menjadi 70 kilogram per hektare.
“Benihnya naik dua kali lipat, dari sekitar 35 kilogram menjadi 70 kilogram per hektare. Secara teori, dengan penggunaan benih yang lebih banyak, hasil panen juga berpotensi meningkat,” ujarnya.
Kendati kebutuhan benih bertambah, metode tabela berpotensi memangkas komponen biaya produksi. Sebab, petani tidak lagi membutuhkan buruh untuk proses penanaman.
Namun, efektivitas metode tersebut belum dapat disimpulkan. DKPP Pacitan masih harus menunggu panen perdana sekaligus mengevaluasi potensi serangan hama dan penyakit tanaman.
“Tapi ada sisi negatifnya, hama dan penyakit belum kami ketahui sampai sekarang. Yang jelas, biaya produksi sedikit menurun, terutama karena tidak memerlukan biaya buruh tanam,” jelas Agus.
Petani juga tetap diberi keleluasaan menentukan varietas padi yang ditanam. Namun, pemilihan varietas harus diikuti pengaturan jarak tanam dan teknik budidaya yang sesuai.
Pengelolaan air turut menjadi faktor penting, terutama saat musim kemarau. Karena itu, DKPP Pacitan masih mempelajari efektivitas tabela sebelum metode tersebut diterapkan lebih luas.
Uji coba itu berlangsung ketika produksi padi Pacitan menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data BPS yang dikutip DKPP, luas panen padi pada 2025 mencapai 26,77 ribu hektare, meningkat 83,35 persen dibandingkan 2024 yang tercatat 14,60 ribu hektare.
Produksi gabah kering giling (GKG) juga meningkat dari 69,65 ribu ton pada 2024 menjadi 132,52 ribu ton pada 2025.
Sementara produksi beras naik 90,26 persen, dari 40,22 ribu ton menjadi 76,52 ribu ton.
Meski demikian, capaian produksi tersebut belum dapat dijadikan ukuran keberhasilan sistem tabela yang baru diuji coba.
Hasil metode tersebut baru dapat dievaluasi setelah tanaman memasuki masa panen.
“Namun, kepastian peningkatan hasil masih menunggu panen perdana dari lahan yang menerapkan sistem tersebut,” pungkas Agus. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto