Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pacitan masih tinggi seiring kondisi vegetasi yang mengering selama kemarau.
Wilayah ini pun menjadi salah satu sasaran Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung di Jawa Timur pada 3–9 September 2026.
Operasi Modifikasi Cuaca tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan peluang turunnya hujan.
Kelembapan lahan dan kawasan hutan diharapkan terjaga sehingga risiko karhutla dapat ditekan.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan Yagus Triarso mengatakan, kondisi cuaca kering membuat langkah mitigasi kebakaran perlu diperkuat.
’’Ini merupakan upaya untuk meningkatkan potensi curah hujan sehingga kelembapan lahan dan kawasan hutan tetap terjaga serta risiko kebakaran dapat ditekan,’’ kata Yagus, Selasa (8/9).
Pelaksanaan OMC dipusatkan di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang. Operasi tersebut melibatkan Kementerian Kehutanan, BMKG, TNI AU, Manggala Agni, serta Rekayasa Atmosfer Indonesia (RAI).
Sebelum penyemaian awan dilakukan, kondisi atmosfer dianalisis berdasarkan data cuaca, citra satelit, dan radar.
Pesawat kemudian melakukan penyemaian bahan pada awan yang dinilai potensial untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Upaya tersebut dinilai penting lantaran Pacitan masih menghadapi kekeringan.
Vegetasi yang mengering ditambah embusan angin kencang membuat potensi penyebaran api semakin perlu diwaspadai.
Ancaman itu terlihat dari kebakaran yang masih terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Minggu (6/9), api melanda kawasan hutan di Jalan Pacitan–Ponorogo Kilometer 5, Bolosingo.
Sehari berselang, kebakaran kembali terjadi di Desa Nanggungan. Api membakar semak belukar dan rumpun bambu sebelum berhasil dikendalikan.
’’Kondisi cuaca saat ini memang perlu diwaspadai. Vegetasi yang kering ditambah angin kencang membuat api lebih mudah menyebar,’’ ujarnya.
Yagus menyebut pemantauan selama pelaksanaan OMC menunjukkan wilayah Jawa Timur belum diguyur hujan pada 4–6 September.
Hujan kemudian mulai turun di sejumlah wilayah selatan dan timur pada periode 6–7 September.
Selain menekan risiko karhutla, peningkatan peluang hujan diharapkan membantu menjaga kondisi lingkungan di tengah kemarau.
’’Selain mengurangi risiko karhutla, langkah itu juga diharapkan menjaga keseimbangan ekosistem, kualitas udara, serta melindungi masyarakat dari dampak asap kebakaran,’’ tandas Yagus. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto