Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau membuat sekitar 20 kepala keluarga (KK) di Dusun Klisat, Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan, kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Sumur bor yang sebelumnya dibangun pemerintah desa kini tak lagi mengeluarkan air.
Kondisi tersebut membuat warga bergantung pada dropping air bersih dari pemerintah maupun relawan.
Jika bantuan terlambat datang, mereka terpaksa membeli air dengan biaya yang tidak sedikit.
Setiap truk tangki tiba, warga membawa jeriken dan ember untuk mengambil air.
Sebagian pasokan ditampung di bak penampungan di sekitar masjid sebelum digunakan bersama.
Sunarti, salah seorang warga, mengatakan krisis air Pacitan di wilayahnya hampir selalu berulang ketika musim kemarau.
Letak permukiman di kawasan perbukitan ditambah sumber mata air yang berada cukup dalam membuat warga kesulitan mendapatkan pasokan.
Ketika dropping air bersih belum datang dan persediaan menipis, membeli air menjadi pilihan terakhir.
Untuk mendapatkan 3.000 liter, warga harus mengeluarkan sekitar Rp225 ribu.
’’Kalau air habis, ya beli. Tiga ribu liter sekitar Rp225 ribu. Itu paling cukup untuk dua minggu,’’ ujar Sunarti, Sabtu (12/9).
Bantuan terbaru datang dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 934/Satria Buwana Yudha (SBY) bersama UPT Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan.
Dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter diterjunkan menuju Dusun Klisat.
Total 10 ribu liter air bersih disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga.
Komandan Yonif TP 934/SBY Letkol Inf Dian Nur Huda mengatakan bantuan tersebut diberikan setelah pihaknya melihat kondisi masyarakat yang membutuhkan pasokan air.
’’Melihat kondisi masyarakat yang membutuhkan suplai air bersih, kami membantu kebutuhan masyarakat. Total ada 10 ribu liter air yang dibagikan,’’ katanya.
Bagi 20 KK di Dusun Klisat, bantuan tersebut menjadi penopang kebutuhan di tengah sumur bor kering dan semakin terbatasnya sumber air selama kemarau. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto