Jawa Pos Radar Madiun – Enam siswa Sekolah Rakyat Pacitan memilih mengundurkan diri setelah beberapa pekan menjalani pendidikan.
Sistem pendidikan berasrama menjadi salah satu tantangan adaptasi, terutama bagi siswa usia sekolah dasar yang belum terbiasa berpisah dengan orang tua.
Enam siswa yang mundur dari Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Pacitan terdiri atas dua siswa SD dan empat siswa SMP.
Kepala SD-SMP SRT 1 Pacitan Bayu Arifyanto mengatakan, setelah pengunduran diri tersebut kini terdapat 21 siswa jenjang SD dan 86 siswa SMP. Sebelumnya, jumlah siswa SMP mencapai 90 anak.
’’Ada beberapa yang mengundurkan diri. Ada yang memilih sekolah di tempat lain,’’ ujar Bayu, Sabtu (12/9).
Persoalan adaptasi paling terlihat pada jenjang SD. Seorang siswa memilih kembali ke sekolah reguler karena belum mampu berpisah dengan orang tua.
Sementara seorang siswa lainnya memutuskan tidak melanjutkan sekolah.
Menurut Bayu, sistem pendidikan berasrama memang menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kuota SRT 1 Pacitan.
Tidak semua anak maupun orang tua siap tinggal terpisah, terutama pada usia SD.
’’Tidak semua orang tua siap anaknya bersekolah dengan sistem asrama. Anak yang baru lulus itu kan masih dikeloni. Jadi, tidak semuanya ikhlas atau siap berpisah dengan anak untuk sementara waktu,’’ jelasnya.
Siswa dengan usia lebih besar dinilai relatif lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan asrama.
Kendati demikian, empat siswa SMP juga tercatat memilih mengundurkan diri. Bahan yang tersedia belum merinci alasan masing-masing siswa tersebut.
Di tengah berkurangnya jumlah siswa, proses pemenuhan kuota masih dilakukan.
Dinas sosial melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) terus melakukan penjangkauan terhadap calon siswa yang memenuhi kriteria berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
’’Di awal sudah dikatakan tidak membuka pendaftaran, tetapi yang dilakukan adalah penjangkauan. Datanya sudah ada by name, kemudian ditelusuri anak-anaknya,’’ terang Bayu.
Termasuk delapan siswa SD yang sebelumnya diserahkan dinas pendidikan.
Menurut Bayu, mereka sebenarnya telah diterima dan tinggal di SRT. Hanya, saat itu belum dilakukan seremoni penyerahan secara resmi.
Saat ini, para siswa masih menjalani matrikulasi setelah menyelesaikan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Tahapan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 2 Oktober.
Peluang bergabung dengan SRT 1 Pacitan juga masih terbuka bagi calon siswa yang sudah bersekolah di sekolah reguler.
Namun, proses perpindahan harus dikoordinasikan dengan sekolah asal.
’’Masih memungkinkan. Tetapi, harus dikomunikasikan dengan sekolah reguler karena mereka sudah terdaftar. Tidak bisa tiba-tiba diambil,’’ katanya.
Pengelola kini berupaya memperkuat pendampingan agar siswa semakin nyaman mengikuti sistem pendidikan berasrama.
Pola pengasuhan humanis, komunikasi intensif, hingga kegiatan ekstrakurikuler menjadi bagian dari upaya tersebut.
’’SRT terus membangun komunikasi dengan siswa dan keluarga,’’ pungkas Bayu. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto