Simulasi Gempa M 8,7 dan Tsunami di Pacitan, Warga Ploso Dievakuasi ke Tempat Tinggi

Nur Cahyono • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 15:00 WIB
KESIAPSIAGAAN: Warga mengikuti salah satu skenario dalam simulasi penanggulangan bencana di Kelurahan Ploso, Pacitan, Jumat (11/9).  NUR CAHYONO/RADAR PACITAN
KESIAPSIAGAAN: Warga mengikuti salah satu skenario dalam simulasi penanggulangan bencana di Kelurahan Ploso, Pacitan, Jumat (11/9). NUR CAHYONO/RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Madiun – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,7 mengguncang Pacitan.

Setelah guncangan berhenti, warga Lingkungan Barehan, Kelurahan Ploso, berhamburan menuju area terbuka.

Situasi semakin genting ketika muncul informasi air laut di kawasan pantai selatan surut, salah satu tanda alami yang perlu diwaspadai terkait tsunami.

Warga segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi. Lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya menjadi prioritas dalam proses evakuasi.

Namun, situasi tersebut bukan bencana yang benar-benar terjadi. Gempa M 8,7 dan potensi tsunami menjadi skenario dalam simulasi penanggulangan bencana yang digelar di Kelurahan Ploso, Jumat (11/9).

Dalam skenario tersebut, warga diarahkan menuju lokasi aman dengan ketinggian lebih dari 20 meter dari permukaan laut.

Setibanya di tempat evakuasi, mereka juga dilatih menghadapi situasi pascabencana.

Sejumlah peserta memberikan pertolongan kepada korban luka. Sementara kelompok ibu-ibu menyiapkan kebutuhan pengungsi melalui dapur umum.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, latihan tersebut penting karena Kelurahan Ploso termasuk wilayah yang memiliki kerentanan bencana di Kecamatan Pacitan.

’’Kelurahan Ploso ini sangat rentan di antara sekian zona merah yang ada di Kecamatan Pacitan,’’ kata Erwin.

Tantangan evakuasi tidak hanya berkaitan dengan tingkat kerawanan wilayah.

Jarak permukiman menuju titik evakuasi akhir (TEA) juga menjadi persoalan yang perlu diantisipasi.

BPBD Pacitan mencatat terdapat 11 TEA yang telah ditetapkan.

Kondisi tersebut membuat peningkatan kapasitas masyarakat menjadi penting agar warga mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi.

’’Warga tidak cukup hanya mengetahui bahwa wilayahnya rawan bencana, tetapi juga harus memahami apa yang dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi,’’ jelasnya.

Simulasi penanggulangan bencana tersebut merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak Senin.

Sebelumnya, masyarakat mendapat berbagai materi mengenai kebencanaan.

Unsur pentahelix hingga kelompok rentan turut dilibatkan. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan praktik simulasi evakuasi menghadapi gempa bumi dan potensi tsunami.

Erwin menegaskan latihan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat pesisir untuk memahami langkah penyelamatan ketika merasakan gempa kuat.

Kesiapsiagaan warga diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi apabila bencana benar-benar terjadi. (hyo/den)

Editor : Hengky Ristanto
simulasi penanggulangan bencana pacitan bpbd pacitan gempa Kelurahan Ploso