Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau membuat sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan warga Desa Sambong, Pacitan, mengering.
Tiga dari 12 dusun kini mengalami krisis air bersih hingga sebagian warga harus patungan Rp170 ribu untuk membeli satu tangki air.
Krisis air bersih tersebut dirasakan warga dalam dua bulan terakhir. Kepala Desa Sambong Agus Rianto mengatakan, masyarakat selama ini banyak menggantungkan kebutuhan air sehari-hari pada sumber mata air di sekitar permukiman.
Namun, kemarau berkepanjangan membuat debit sumber air terus menyusut hingga tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan masyarakat.
’’Dari 12 dusun, ada tiga dusun yang saat ini paling terdampak krisis air bersih,’’ jelas Agus, Minggu (13/9).
Tiga wilayah tersebut adalah Dusun Bengle, Sawahan, dan Pager Gunung.
Agus menyebut kondisi sumber air semakin kritis setelah wilayah tersebut hampir delapan bulan tidak diguyur hujan.
’’Tiga dusun itu meliputi Bengle, Sawahan, dan Pager Gunung,’’ ujarnya.
Kondisi kekeringan Pacitan tersebut turut mendapat perhatian kepolisian. Bantuan air bersih disalurkan kepada warga Dusun Bengle pada Jumat (11/9).
Sebanyak satu tangki berkapasitas 5.000 liter didistribusikan. Warga kemudian mengantre membawa wadah untuk mendapatkan air di lokasi penampungan yang telah disiapkan.
Kanit Turjawali Satlantas Polres Pacitan Ipda Fendy Yud Priambodo mengatakan, dropping air bersih tersebut merupakan bentuk kepedulian kepolisian terhadap masyarakat yang terdampak kemarau.
’’Kami melihat wilayah ini memang membutuhkan bantuan air bersih karena sumber air warga sudah mulai mengering,’’ kata Fendy.
Sutini, salah seorang warga, mengatakan masyarakat sebelumnya masih bisa mengandalkan mata air meski lokasinya cukup jauh dari permukiman.
Setelah sumber tersebut tidak lagi mencukupi, warga terpaksa mengeluarkan uang secara bersama-sama untuk membeli air.
Satu tangki air dibeli seharga Rp170 ribu. Pasokan tersebut, menurut Sutini, hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar tiga hari.
’’Biasanya kami patungan untuk membeli air. Satu tangki harganya Rp170 ribu dan itu paling hanya cukup untuk tiga hari. Setelah itu kalau ada uang kami beli lagi, kalau tidak ya menunggu bantuan,’’ ujarnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto