Jawa Pos Radar Madiun - Jarak ribuan kilometer nyatanya tidak mampu menyurutkan senyum bahagia di wajah para lulusan asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Di saat ratusan rekannya mengenakan toga secara langsung di Pacitan, mereka tetap khusyuk merayakan kelulusan secara virtual dari kampung halaman.
Inilah pemandangan unik sekaligus bersejarah dalam prosesi Wisuda ke-27 STKIP PGRI Pacitan yang resmi digelar pada hari Rabu (16/9).
Kampus pencetak tenaga pendidik andal ini sukses mengukuhkan gelar akademik bagi 455 mahasiswa dari tujuh program studi berbeda.
Konsep hibrida yang memadukan pertemuan luring dan daring ini terpaksa diterapkan karena sebaran geografis lulusan yang sangat luas.
Baca Juga: Korea Incar Emas Voli Putri Asian Games 2026: Setter Rekan Megawati Hangestri Jadi Sorotan
Konsep Hibrida dan Peserta RPL dari Aceh
Pihak rektorat sengaja mengambil langkah adaptif ini sebagai bentuk pelayanan paripurna kepada seluruh mahasiswanya.
Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, memaparkan bahwa tidak semua mahasiswa yang lulus pada gelombang ini berstatus sebagai mahasiswa reguler.
Sebanyak 68 wisudawan di antaranya diketahui berasal dari wilayah Aceh serta sejumlah kabupaten lain di luar daerah.
“Pada wisuda ke-27 tahun 2026 ini, STKIP PGRI Pacitan mewisuda 455 mahasiswa dari tujuh program studi. Ini agak berbeda dari tahun yang lalu karena kita laksanakan secara hibrida, luring dan daring,” ujarnya, Rabu (16/9).
Kehadiran mahasiswa lintas pulau ini merupakan buah manis dari kepercayaan pemerintah pusat terhadap kualitas institusi pendidikan di Pacitan tersebut.
STKIP PGRI Pacitan ditunjuk langsung untuk mengelola program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi para tenaga pendidik aktif.
Program strategis ini merupakan inisiatif langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) demi mengerek kompetensi akademis para guru di berbagai pelosok.
“Di tahun ini kami juga mewisuda 68 mahasiswa dari Nanggroe Aceh Darussalam dan beberapa kabupaten lainnya, selain mahasiswa reguler. Kami berterima kasih karena dipercaya untuk mengelola RPL atau peningkatan kompetensi akademis bagi guru dari Kemendikdasmen,” katanya.
Baca Juga: Misteri Masalembu dan Tragedi KM Virgo, Pakar ITS Ungkap Hasil Analisis
Hadiah Khusus Penembus Jurnal SINTA
Di samping keunikan sistem hibrida, seremoni kelulusan tahunan ini juga membawa kabar gembira bagi kelompok mahasiswa berprestasi.
Pihak kampus tidak hanya menggelar perayaan, tetapi juga menyiapkan apresiasi khusus bagi wisudawan yang rajin meneliti.
Penghargaan tertinggi diberikan kepada mereka yang sukses menghasilkan luaran akademik berupa publikasi ilmiah di jurnal eksternal bergengsi.
Terutama bagi para lulusan yang karya tulisnya berhasil terindeks menembus jaringan Science and Technology Index (SINTA).
“Pada tahun ini kami juga mengapresiasi, sebagai stimulus dan spirit bagi mahasiswa yang punya luaran atau publikasi. Tidak hanya di STKIP PGRI Pacitan, tetapi di jurnal luar, utamanya yang terindeks SINTA. Itu kami apresiasi secara khusus,” jelasnya.
Bakti sangat berharap apresiasi semacam ini mampu menumbuhkan tradisi intelektual yang lebih kuat di lingkungan kampus.
Mahasiswa masa depan dituntut untuk lebih berani menulis, meneliti, dan mendistribusikan pengetahuannya melalui publikasi resmi yang diakui negara.
Baca Juga: Peringati Hari Pelanggan Nasional 2026, PLN UP3 Ponorogo Gembleng Puluhan Petugas Yantek
Awal Sebuah Pengabdian Panjang
Bagi ratusan wisudawan yang hadir, prosesi pemindahan tali toga ini bukanlah garis finis dari sebuah perjalanan panjang.
Bakti berpesan keras agar momentum kelulusan ini justru dimaknai sebagai pintu gerbang menuju dunia pengabdian yang sesungguhnya.
Setiap ilmu dan teori yang didapatkan di bangku perkuliahan kini harus diuji langsung kebermanfaatannya di tengah-tengah urat nadi masyarakat.
“Jangan menganggap wisuda ini sebagai akhir dari perjalanan. Wisuda justru menjadi awal untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Teruslah belajar, terus meningkatkan kompetensi dan jangan berhenti berkarya,” pesannya.
Sebagai calon pendidik bangsa, lulusan STKIP PGRI Pacitan juga memikul tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik almamater tercinta.
Para sarjana baru ini diharapkan menjelma menjadi sosok profesional, berintegritas tinggi, dan mampu beradaptasi cepat dengan disrupsi zaman.
Menutup sambutannya, Bakti menitipkan pesan mendalam khusus bagi mereka yang akan segera berdiri di depan kelas sebagai seorang guru.
Ia menegaskan dengan lugas bahwa tugas sejati seorang guru jauh melampaui batas penyampaian materi kurikulum di atas papan tulis.
“Jadilah pendidik yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan keteladanan. Terus belajar, terus beradaptasi, dan jadilah guru yang mampu menginspirasi anak-anak didiknya,” pungkasnya. (*)
Editor : Mizan Ahsani