Kekeringan di Pacitan Meluas ke 62 Desa, 48.526 Jiwa Terdampak Krisis Air Bersih

Nur Cahyono • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 19:30 WIB
BANTUAN AIR BERSIH: Petugas menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Pacitan. DOK/RADAR PACITAN
BANTUAN AIR BERSIH: Petugas menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Pacitan. DOK/RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih di Kabupaten Pacitan semakin meluas. Hingga pertengahan September 2026, sebanyak 62 desa terdampak kekeringan. Sedikitnya 48.526 jiwa kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut seiring potensi pengaruh fenomena El Nino hingga November mendatang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino yang berpotensi memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah.

Menurut dia, dampaknya tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan, tetapi juga memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi kering dalam beberapa pekan ke depan.

"Mengacu prakiraan BMKG, puncak El Nino sampai November," kata Erwin, Senin (21/9).

Erwin menjelaskan, berdasarkan informasi prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode dasarian III September hingga dasarian II Oktober 2026 diperkirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah.

Curah hujan pada periode tersebut diprakirakan berkisar 0–150 milimeter per dasarian atau setiap sepuluh hari.

Kondisi itu berpotensi membuat pasokan air di wilayah rawan kekeringan belum sepenuhnya pulih. Terlebih, pengaruh fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung dapat memengaruhi pembentukan awan hujan dan pola curah hujan.

“Artinya, kondisi kering masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Pacitan,’’ ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, ribuan warga Pacitan masih mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BPBD Pacitan telah melakukan penyaluran bantuan air bersih atau dropping ke sejumlah wilayah terdampak sejak 15 Agustus lalu.

Berdasarkan data terakhir BPBD, kekeringan telah melanda 62 desa dengan jumlah warga terdampak mencapai 16.676 kepala keluarga (KK) atau 48.526 jiwa.

Banyaknya titik kekeringan menjadi salah satu tantangan dalam penyaluran bantuan. Sebab, distribusi air bersih harus menjangkau sejumlah desa yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

BPBD Pacitan pun terus melakukan penanganan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak.

”Kendalanya, titik kekeringan cukup banyak,” pungkasnya. (hyo/den)

Editor : Hengky Ristanto
kekeringan di Pacitan bpbd pacitan bantuan air bersih el nino krisis air bersih