Musim Hujan di Pacitan Diprediksi Mundur hingga Januari 2027, Krisis Air Mengancam

Nur Cahyono • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 18:59 WIB
ANTISIPASI KEKERINGAN: Kondisi lahan mengering di Kabupaten Pacitan saat musim kemarau. NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN
ANTISIPASI KEKERINGAN: Kondisi lahan mengering di Kabupaten Pacitan saat musim kemarau. NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Pacitan – Ancaman kekeringan berkepanjangan masih membayangi Kabupaten Pacitan. Musim hujan diperkirakan baru tiba pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang krisis air bersih di sejumlah wilayah yang terdampak kemarau panjang.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan Yagus Triarso mengatakan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan 2026/2027 berpotensi mundur dari kondisi normal.

Fenomena El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif disebut turut memengaruhi kondisi tersebut. Meski langit Pacitan beberapa hari terakhir sempat mendung, masyarakat diminta tetap mengantisipasi kemungkinan kemarau berlangsung lebih lama.

‘’Untuk wilayah Pacitan kemungkinan musim hujan pada Desember–Januari,’’ ujar Yagus, Kamis (24/9).

Yagus menjelaskan, berdasarkan rilis BMKG yang dirujuknya, sebanyak 529 zona musim (ZOM) atau sekitar 61 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan.

Sebagian besar wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Sementara itu, puncak musim hujan di sejumlah daerah diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2027.

Selain mengalami kemunduran, durasi musim hujan diperkirakan lebih pendek dibandingkan kondisi normal. Situasi tersebut perlu diantisipasi, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber air.

Yagus menyebut, sejumlah daerah bahkan mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kekeringan dan memperpanjang krisis air bersih.

Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang mengandalkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Sektor pertanian juga menghadapi risiko gangguan akibat terbatasnya pasokan air selama musim kemarau.

Menghadapi potensi kemarau panjang, BPBD Pacitan mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih. Warga juga diminta menampung persediaan air yang masih tersedia untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan.

Sementara itu, petani diharapkan menyesuaikan aktivitas pertanian dengan kondisi musim dan ketersediaan air. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko kerugian akibat kekeringan berkepanjangan.

Selain persoalan air, kondisi lahan yang semakin kering turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak sembarangan membakar sampah maupun membuka lahan menggunakan api. Terlebih, vegetasi yang mengering selama musim kemarau membuat api lebih mudah merambat ke kawasan sekitarnya.

‘’Sebab, kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar,’’ pungkas Yagus. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
musim hujan di Pacitan bpbd pacitan kemarau panjang el nino krisis air bersih