Kekeringan Landa 62 Desa di Pacitan, 400 Siswa Sekolah Rakyat Gelar Salat Istisqa

Nur Cahyono • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 19:19 WIB
MEMOHON HUJAN: Ratusan siswa bersama guru dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pacitan menggelar salat istisqa di halaman sekolah, Kamis (24/9), sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis air bersih. NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN
MEMOHON HUJAN: Ratusan siswa bersama guru dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pacitan menggelar salat istisqa di halaman sekolah, Kamis (24/9), sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis air bersih. NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Pacitan – Krisis air bersih yang melanda 62 desa di Kabupaten Pacitan menggugah kepedulian pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Pacitan.

Sekitar 400 siswa jenjang SD hingga SMA bersama guru dan tenaga kependidikan menggelar salat istisqa di halaman sekolah, Kamis (24/9). Mereka memohon hujan segera turun setelah kemarau berlangsung sekitar tiga bulan.

Kepala SMA-SRT 1 Pacitan Nanang Adang Kusdinar mengatakan, kegiatan tersebut berawal dari inisiatif siswa SMA yang tergabung dalam organisasi Rohani Islam (Rohis).

Para siswa tergerak setelah melihat kondisi masyarakat di sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan.

’’Mereka melihat dan merasakan keprihatinan terhadap kondisi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia,’’ ujar Nanang.

Menurut dia, para siswa tidak langsung menggelar salat istisqa. Sebelumnya, mereka terlebih dahulu menjalankan puasa sunah selama tiga hari berturut-turut.

Puasa tersebut dilaksanakan mulai Senin (21/9) hingga Rabu (23/9). Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan salat istisqa dan doa bersama seluruh keluarga besar SRT 1 Pacitan pada Kamis (24/9).

Nanang menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan. Salat istisqa juga dimanfaatkan sebagai sarana menanamkan kepedulian sosial dan lingkungan kepada para siswa.

Terlebih, kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia turut berdampak pada ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan semakin memahami kondisi masyarakat yang mengalami kesulitan akibat kemarau panjang.

Nanang menambahkan, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya diwujudkan melalui doa bersama. Para siswa juga didorong melakukan langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Di antaranya, menghemat penggunaan air, menjaga kebersihan, serta merawat lingkungan sekitar.

’’Yang paling penting dari kegiatan ini adalah bagaimana anak-anak memiliki rasa peduli dan mengajak orang lain untuk ikut merasakan keprihatinan tersebut,’’ jelasnya.

Dia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kesadaran siswa untuk lebih peduli terhadap persoalan lingkungan dan kondisi masyarakat di sekitarnya.

Di sisi lain, Nanang berharap hujan segera turun sehingga krisis air bersih yang dialami masyarakat di sejumlah wilayah dapat segera berakhir.

’’Kami berharap hujan segera turun, bukan hanya di tempat kami, tetapi di seluruh wilayah Indonesia yang memang sedang sangat membutuhkan air,’’ pungkasnya. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
kekeringan di Pacitan puasa sunah sekolah rakyat pacitan krisis air bersih salat istisqa