Pembatik Tulis Pacitan Menua, Batik Puspita Bidik Gen Z lewat Ready to Wear

Nur Cahyono • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 17:00 WIB
JAGA REGENERASI: Proses pembuatan batik tulis membutuhkan ketelitian dan keterampilan. FOTO: NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN
JAGA REGENERASI: Proses pembuatan batik tulis membutuhkan ketelitian dan keterampilan. FOTO: NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Madiun – Regenerasi menjadi pekerjaan rumah industri batik Pacitan. Pembatik tulis masih didominasi generasi senior.

Sementara anak muda belum banyak tertarik menekuni keterampilan mencanting.

Pengelola Batik Puspita Nova Ruliana Purba menyebut proses belajar yang panjang dan membutuhkan ketelitian menjadi salah satu penyebab.

Terlebih, pendapatan dari profesi tersebut dinilai belum sebanding dengan tingkat kerumitan pekerjaan.

’’Anak muda cenderung kurang tertarik menekuni profesi ini karena dipersepsikan membutuhkan waktu belajar yang lama, ketelitian tinggi, dan tingkat pendapatan yang dinilai belum sepadan dengan tingkat kerumitannya,’’ ujarnya, Sabtu (3/10).

Meski regenerasi tersendat, Nova menilai industri batik Pacitan masih memiliki prospek.

Batik Puspita yang berpusat di Desa Bogoharjo, Kecamatan Ngadirojo, misalnya, kini mempekerjakan sekitar 25–30 orang.

Produksinya mencapai 150–250 lembar kain per bulan. Kapasitas tersebut dapat digenjot mengikuti permintaan. Bahkan, pesanan hingga 500 lembar dalam sebulan pernah ditangani.

Namun, pasar sempat tertekan imbas efisiensi anggaran sejumlah instansi pemerintah. Pesanan seragam yang selama ini menjadi salah satu ceruk pasar ikut berkurang.

’’Memang beberapa waktu sempat ada penurunan karena efisiensi anggaran dinas-dinas yang biasanya banyak order seragam,’’ kata perempuan 34 tahun tersebut.

Kondisi itu mendorong pelaku usaha mencari ceruk pasar baru. Batik Puspita mulai membidik Gen Z melalui produk ready to wear yang lebih dekat dengan gaya berpakaian anak muda.

Tak hanya berinovasi pada model pakaian, konsep produk ramah lingkungan atau eco-luxury turut dikembangkan. Pemasaran digital juga diperkuat untuk memperluas jangkauan pasar.

Bagi Nova, inovasi tetap harus berpijak pada identitas lokal. Batik tidak hanya diposisikan sebagai produk fesyen, tetapi juga membawa cerita dan kebudayaan daerah.

’’Kami tidak sekadar menjual kain, tetapi juga menjual narasi dan kebudayaan daerah,’’ pungkasnya. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
regenerasi pembatik Batik Puspita ready to wear pacitan Batik Pacitan