Jawa Pos Radar Madiun – Merah, biru, kuning, hingga hijau memenuhi meja-meja di ruang kegiatan SLB Negeri Ngadirojo, Desa Cokrokembang, Pacitan, Jumat (2/10).
Tangan-tangan kecil bergerak perlahan. Hati-hati menggoreskan warna pada motif batik. Sebagian membutuhkan pendampingan. Namun, semuanya larut dalam kegembiraan.
Hari itu, 30 siswa dari jenjang TKLB hingga SMALB merayakan Hari Batik Nasional dengan cara berbeda.
Mereka tidak hanya dikenalkan pada batik sebagai warisan budaya Indonesia, tetapi juga diberi ruang mengekspresikan kreativitas melalui totebag bermotif batik.
Melalui kegiatan sederhana tersebut, batik dikenalkan dengan cara yang dekat dengan keseharian mereka. Bermain warna, berkreasi, sekaligus menghasilkan karya sesuai kemampuan masing-masing.
Kegiatan itu merupakan kolaborasi SLBN Ngadirojo dengan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Pacitan. Suasana belajar dibuat cair tanpa tuntutan menghasilkan karya yang seragam.
Setiap siswa bebas memilih dan menuangkan warna sesuai kemampuan serta imajinasinya. Pendampingan diberikan kepada mereka yang membutuhkan bantuan selama proses mewarnai.
Dosen STKIP PGRI Pacitan sekaligus collaboration manager Komunitas Belajar NexSe Sugiono mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar mengisi peringatan Hari Batik Nasional.
Lebih jauh, para siswa dikenalkan pada pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
’’Supaya kita mengenal batik, kemudian batik bisa lestari dan tidak termakan zaman,’’ tutur Sugiono.
Menurut dia, batik memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan fashion Indonesia.
Kreativitas dan inovasi dalam pengembangannya juga dinilai dapat memberikan dampak terhadap perekonomian maupun kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, pengenalan batik kepada generasi muda menjadi penting. Termasuk memberikan kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengenal dan mengekspresikan batik melalui cara yang sesuai dengan kemampuan mereka.
’’Jangan sampai batik terkikis oleh tren fashion yang sangat masif,’’ pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto