Kekeringan Pacitan, 25 Warga Dusun Sumber Bergantung pada Satu Mata Air

Nur Cahyono • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 20:07 WIB
KRISIS AIR BERSIH: Warga Dusun Sumber, Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, mengambil air dari satu sumber yang masih bisa dimanfaatkan saat kemarau. NUR CAHYONO/RADAR PACITAN
KRISIS AIR BERSIH: Warga Dusun Sumber, Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, mengambil air dari satu sumber yang masih bisa dimanfaatkan saat kemarau. NUR CAHYONO/RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau memaksa warga Dusun Sumber, Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, kembali mengandalkan satu sumber air untuk bertahan. Sumur-sumur pribadi mengering. Setiap pagi dan sore, warga harus bergantian mengambil air demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Sumber air tersebut berada di bawah sebuah pohon besar. Saat musim hujan, lokasinya jarang dimanfaatkan warga. Namun, ketika kemarau membuat sumur mengering, sumber itu menjadi tumpuan.

Warga berdatangan membawa berbagai wadah. Mulai jeriken, galon bekas air mineral, hingga ember. Air yang diperoleh digunakan untuk memasak, minum, mandi, mencuci, dan kebutuhan sanitasi.

Mesrati, salah seorang warga, mengaku sudah sekitar dua bulan menggantungkan kebutuhan air keluarganya pada sumber tersebut.

Setiap hari, dia mengambil air dua kali, yakni pagi dan sore. Jarak antara rumahnya dengan sumber air sekitar 600 meter.

Setelah jeriken dan galon terisi, air dibawa pulang menggunakan sepeda motor oleh anaknya. Persediaan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan tujuh anggota keluarga.

“Airnya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, minum, mandi, dan lainnya,” kata Mesrati, Kamis (8/10).

Rutinitas tersebut harus dijalani lantaran sumur pribadi tidak lagi mampu menyediakan air yang cukup selama kemarau.

Saat ini, sekitar 25 warga di lingkungan tersebut mengandalkan sumber air yang sama. Namun, debit air yang terbatas membuat proses pengambilan tidak selalu berjalan cepat.

Warga harus bergantian mengisi wadah. Bahkan, ketika air di kubangan sumber mulai berkurang, mereka terpaksa menunggu hingga kembali terisi.

Kondisi itu membuat warga harus menghemat penggunaan air. Persediaan yang berhasil dibawa pulang diatur agar mencukupi berbagai kebutuhan sehari-hari.

Jika air dari sumber tidak mencukupi, sebagian warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih dari mobil tangki.

Harga satu tangki air berkapasitas 1.000 liter mencapai Rp 80 ribu.

“Kalau air dari sumber tidak cukup, kadang harus membeli air tangki,” ujar Sulastri, warga lainnya.

Editor : Hengky Ristanto
warga ngangsu air pacitan krisis air bersih kekeringan pacitan